ACTUALNEWS.ID Jakarta, Kehadiran Warung Budaya Cut Nyak di kawasan Setu Mangga Bolong, Jakarta, menandai langkah baru dalam membangun ruang usaha kuliner yang berpijak pada identitas budaya Nusantara.
Digagas oleh Ajis Larungsukma bersama Maryana, Warung Budaya Cut Nyak tidak hanya menawarkan pengalaman bersantap dalam suasana tradisional, tetapi juga membawa visi yang lebih luas: menjadikan kuliner sebagai pintu masuk bagi pelestarian budaya, penguatan interaksi sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pertumbuhan gagasan kebudayaan.
Grand Opening Warung Budaya Cut Nyak di Setu Mangga Bolong, Jakarta. pada 22 Oktober 2026, menjadi momentum untuk memperkenalkan konsep warung berbasis budaya yang menggabungkan nilai tradisi, keasrian lingkungan, dan semangat membangun ruang publik yang terbuka bagi berbagai kalangan.
Rangkaian kegiatan Grand Opening Warung Budaya Cut Nyak diawali dengan kegiatan menebar ikan di Setu Mangga Bolong. Kegiatan ini membawa pesan bahwa pembangunan usaha dan pengembangan kebudayaan seharusnya berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Penebaran ikan bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan, menumbuhkan kesadaran ekologis, dan mewariskan lingkungan yang sehat kepada generasi mendatang.
“Semoga Warung Budaya Cut Nyak bukan hanya menjadi tempat untuk berkumpul, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar wawasan, memperluas pengetahuan, memahami ilmu budaya, dan melahirkan gagasan-gagasan yang mendorong kemajuan kebudayaan. Kami ingin tempat ini menjadi sumber inspirasi bagi semua kalangan, termasuk generasi muda,” kata Ajis.
Kebudayaan harus terus hidup melalui pemikiran kritis, dialog terbuka, penciptaan karya, serta tindakan nyata yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dari perjumpaan tersebut, diharapkan tumbuh jejaring kolaborasi, gagasan kreatif, dan inisiatif bersama yang mampu memperkuat ekosistem kebudayaan Indonesia.
Warung Budaya Cut Nyak turut memperoleh perhatian dari Sesepuh Sastrajendra Living Academy, Toni Junus Kanjeng NgGung, bersama pendamping sepuh Nyi Anggrek. Keduanya menyampaikan rasa syukur dan doa atas dibukanya ruang usaha yang membawa harapan bagi perkembangan kuliner dan kebudayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Nyi Anggrek menyampaikan harapan agar Warung Budaya Cut Nyak terus berkembang, memperoleh keberkahan, meraih kesuksesan, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
“Semoga usaha kuliner berbasis budaya ini terus berkembang, memperoleh keberkahan, meraih kesuksesan, serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Warung budaya diharapkan mampu menghadirkan pengalaman kuliner yang berpadu dengan ruang belajar, ruang dialog, dan ruang apresiasi terhadap kekayaan budaya,” ujar Nyi Anggrek.
Toni Junus Kanjeng NgGung menilai Danau yang kaya bukan hanya karena airnya luas, tetapi karena ada tangan bijak dan Alam memberi kehidupan kepada mereka yang tahu cara menjaganya.
“Budaya tidak hanya dibicarakan di ruang-ruang formal, tetapi juga dapat tumbuh melalui percakapan sederhana, perjumpaan antargenerasi, kegiatan kreatif, serta aktivitas ekonomi yang berpijak pada nilai-nilai kebudayaan,” ungkap Toni.
Menurutnya, ruang-ruang perjumpaan yang terbuka memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan kebudayaan.
Toni juga memandang bahwa ukuran keberhasilan sebuah warung budaya tidak semata-mata terletak pada ramainya pengunjung atau besarnya perkembangan usaha. Lebih dari itu, keberhasilan juga perlu dilihat dari kemampuannya menumbuhkan pengetahuan, mempertemukan beragam pandangan, menghidupkan kreativitas, dan menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan.
“Warung Budaya Cut Nyak diharapkan menjadi lebih dari sekadar tempat singgah: sebuah ruang bertumbuhnya gagasan, bersemainya inspirasi, dan terbangunnya masa depan kebudayaan yang inklusif, berdaya, serta berkelanjutan,” tambah Toni.
Salah satu tamu undangan, Satriyono, turut menyampaikan doa dan harapannya atas kehadiran Warung Budaya Cut Nyak.
“Semoga Warung Budaya Cut Nyak senantiasa berkembang, dilimpahi keberkahan, sukses dalam usahanya, dan menjadi ruang kebudayaan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas serta generasi penerus bangsa,” ujar Satriyono.
Bagi Ajis Larungsukma dan Maryana, harapan terhadap Warung Budaya Cut Nyak tidak berhenti tempat usaha melainkan tumbuh sebagai titik temu antara kuliner, budaya, tempat gagasan dirawat, kreativitas dikembangkan, serta nilai-nilai kebudayaan diwariskan kepada generasi mendatang.ACN/RED
