ACTUALNEWS.ID Bekasi, Sastrajendra Living Academy (SLA) mempertegas komitmennya dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya spiritual Nusantara. Komitmen ini dihadirkan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam membangun mental-spiritual bangsa, sekaligus menjaga agar falsafah luhur leluhur tetap hidup dan relevan di tengah pesatnya arus modernisasi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pengenalan dan pendalaman ajaran Sastrajendra versi transformasi SLA. Ajaran ini memuat makna mendalam tentang kehidupan manusia, hubungan antarsesama, keselarasan dengan alam semesta, hingga pembaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Sastrajendra Living Academy, Dr.dr Bambang Dwi Hayunanto, menegaskan bahwa pendirian SLA didasari oleh semangat pengabdian terhadap keberlangsungan tradisi spiritual Nusantara.
“Sastrajendra Living Academy hadir untuk mengajarkan sekaligus melestarikan budaya serta nilai-nilai luhur warisan leluhur,” ujar Bambang dalam keterangan resminya di Bekasi, Minggu (30/8/2026).
Menurut Bambang, laju dinamika zaman membuat sebagian masyarakat khususnya generasi muda kian terasing dari falsafah yang dahulu menjadi fondasi kejayaan peradaban Nusantara. Kondisi inilah yang mendorong SLA hadir sebagai wadah pembelajaran intuitif dan transformatif.
“Banyak nilai luhur yang mulai ditinggalkan. Padahal, apa yang diwariskan leluhur merupakan bentuk bakti mereka bagi generasi penerus. SLA bertekad mengedukasi masyarakat agar mengenal dan memahami hakikat Sastrajendra secara utuh,” tambahnya.
“Falsafah Hidup dan Transformasi Kesadaran”
Bambang menjelaskan, ajaran Sastrajendra Hayuning Pangruwating Diyu mengandung rangkaian esensi filosofis seperti Sangkan Paraning Dumadi, Hurip iku Urub, Eling lan Waspada, Memayu Hayuning Bawono, hingga Manunggaling Kawula Gusti. Nilai-nilai ini dinilai tidak boleh berhenti sebatas wacana teoritis, melainkan harus dihayati dan diwujudkan dalam tindakan nyata menuju kasampurnaning hurip—keberhasilan hidup seimbang secara spiritual maupun keduniawian.
Dalam metodologinya, SLA menyederhanakan konsep kesadaran melalui metode Tri Wikrama, yakni penyatuan tiga ranah kesadaran (pikir, rasa, dan raga) untuk mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi (higher consciousness).
Selain itu, SLA juga mengangkat kisah Dewa Ruci sebagai alegori perjalanan batin manusia dalam menemukan Guru Sejati atau Self (proses individuasi).
“Kisah Dewa Ruci bukan sekadar lakon pewayangan, melainkan gambaran transformasi batin manusia dalam menemukan hakikat jati dirinya,” jelas pakar kesehatan tersebut.

“Membangun Moralitas Bangsa di Era Global”
Di tengah cepatnya perubahan sosial, SLA menekankan pentingnya keselarasan antara cipta, rasa, dan karsa. Manusia tidak cukup hanya mengandalkan rasionalitas intelektual, tetapi juga memerlukan penghayatan rasa dan kehendak bertindak yang harmonis.
Melalui praktik samadi dan olah batin, peserta didik diajak untuk tidak hanya menguasai doktrin atau teks tertulis, tetapi juga mengalami langsung makna ketuhanan dan menerapkan moralitas luhur tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengakhiri keterangannya, Dr.dr Bambang mengajak masyarakat yang tertarik pada dunia spiritual untuk mempelajari ajaran ini secara komprehensif dan tidak berpuas diri pada informasi yang dangkal.
“Pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan generasi mendatang memiliki pijakan nilai yang kokoh. SLA dibentuk atas dasar pengabdian agar warisan budaya Nusantara tetap menjadi gerakan nyata, bukan sekadar slogan,” pungkasnya.ACN/ja/Red
