ACTUALNEWS.ID Jombang – Terpilihnya Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tidak hanya dipandang sebagai keputusan organisatoris. Bagi sebagian kalangan nahdliyin, keputusan tersebut menyimpan makna batin yang lebih dalam, seolah menjadi jalan sunyi yang telah dipersiapkan oleh para pendiri NU untuk menjaga persatuan jam’iyah.
Pandangan itu disampaikan oleh Gus Syaifuddin, keluarga besar Pondok Pesantren Tambakberas Jombang. Menurutnya, setiap perjalanan besar Nahdlatul Ulama selalu memiliki dimensi lahir dan batin. Di balik dinamika organisasi, terdapat ikhtiar spiritual yang menjadi kekuatan utama para ulama dalam menjaga NU.
“Di pesantren, kami meyakini bahwa doa para masyayikh tidak pernah berhenti. Mereka telah wafat, tetapi keberkahan ilmu, perjuangan, dan doa-doanya terus hidup membersamai perjalanan Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Syaifuddin.Kamis (9/7/2026).
Ia mengisahkan bahwa pada awal pembahasan penetapan lokasi Muktamar ke-35 NU, nama Tambakberas bukanlah pilihan utama. Perbincangan saat itu lebih mengerucut pada Jakarta dan Lirboyo, Kediri. Kedua kandidat memiliki dukungan yang sama kuat sehingga pembahasan dikabarkan mengalami kebuntuan (deadlock).
Namun, di tengah situasi tersebut, nama Tambakberas justru muncul sebagai titik temu yang diterima berbagai pihak.
“Bagi kami, itu bukan sekadar kompromi organisasi. Ada hikmah yang lebih besar. Seolah Allah menunjukkan jalan terbaik melalui keberkahan para muassis Nahdlatul Ulama,” katanya.
Gus Syaifuddin menambahkan bahwa di kalangan pesantren berkembang keyakinan spiritual yang memaknai keputusan tersebut sebagai bentuk doa dan keberkahan para pendiri NU, khususnya atau Mbah Wahab, yang sepanjang hidupnya menjadikan Tambakberas sebagai salah satu pusat pengkaderan, perjuangan, dan penyebaran nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“Tentu ini adalah keyakinan spiritual warga pesantren, bukan sesuatu yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun kami percaya, para masyayikh selalu mendoakan agar Nahdlatul Ulama tetap utuh, tidak terpecah, dan selalu menemukan jalan persatuan,” jelasnya.
Menurutnya, pemilihan Tambakberas memiliki nilai simbolik yang sangat kuat. Bukan sekadar memilih lokasi penyelenggaraan muktamar, tetapi mengajak seluruh warga NU kembali kepada akar perjuangan para pendiri organisasi.
“Tambakberas adalah rumah perjuangan. Di sinilah semangat keilmuan, kebangsaan, dan persatuan diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk kembali kepada ruh perjuangan Nahdlatul Ulama, bukan sekadar memilih pemimpin,” tegasnya.
Ia berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU mampu menjadi ruang rekonsiliasi, memperkuat ukhuwah nahdliyah, serta melahirkan keputusan-keputusan yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan organisasi.
“Semoga dari Tambakberas lahir kembali semangat persaudaraan sebagaimana diwariskan para muassis. Jika para pendiri NU dahulu mampu menyatukan perbedaan demi kemaslahatan umat, maka hari ini sudah sepatutnya seluruh warga Nahdliyin menjadikan muktamar sebagai jalan pulang menuju persatuan, bukan ruang untuk memperlebar perbedaan,” pungkas Gus Syaifuddin.ACN/RED
