Keberfungsian Sosial Siswa: Ketika Masalah Sosial Menghambat Proses Belajar di Sekolah

Opini : Krismawati Gulo (Mahasiswa Prodi BK Universitas Nias)

Sekolah pada dasarnya bukan hanya tempat bagi peserta didik untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga merupakan lingkungan sosial tempat siswa belajar berinteraksi, membangun hubungan, menjalankan peran, dan mengembangkan potensi dirinya. Karena itu, ketika seorang siswa mengalami masalah sosial di sekolah, persoalan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai masalah pribadi semata. Menurut pandangan saya, masalah sosial siswa perlu dipahami sebagai persoalan yang melibatkan hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan sosialnya.

Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah siswa yang mulai menyendiri, mengalami ejekan dari teman, mengalami penurunan prestasi belajar, serta berada dalam kondisi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Keempat kondisi tersebut mungkin tampak sebagai masalah yang berbeda, tetapi sebenarnya dapat saling berkaitan. Ejekan dari teman dapat membuat siswa merasa tidak diterima, kemudian memilih menarik diri dari pergaulan. Ketika interaksi sosial semakin berkurang, rasa percaya diri dapat ikut menurun. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi konsentrasi, motivasi, dan prestasi belajar. Di sisi lain, kesulitan ekonomi keluarga dapat menambah tekanan yang dirasakan siswa dalam menjalani kehidupan sekolah.

Dalam perspektif teori keberfungsian sosial Zastrow, keadaan tersebut dapat dipahami melalui kemampuan individu dalam menjalankan peran sosial, memenuhi kebutuhan, membangun hubungan dengan lingkungan, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Dengan demikian, keberfungsian sosial siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pribadinya, tetapi juga oleh kondisi lingkungan yang mendukung atau justru menghambatnya.

Menurut saya, aspek hubungan sosial merupakan bagian yang sangat penting dalam kasus ini. Siswa yang terus-menerus mendapatkan ejekan dapat merasa bahwa sekolah bukan lagi tempat yang aman dan nyaman. Akibatnya, siswa memilih menghindari teman sebagai bentuk perlindungan diri. Perilaku menyendiri tersebut tidak tepat jika langsung diberi label sebagai siswa yang tidak mampu bersosialisasi. Guru BK perlu memahami bahwa perilaku tersebut mungkin merupakan respons terhadap pengalaman sosial yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, intervensi tidak cukup hanya diarahkan kepada siswa agar menjadi lebih percaya diri, tetapi juga harus menyentuh lingkungan sosial yang menjadi sumber masalah.

Selain hubungan sosial, keberfungsian siswa sebagai peserta didik juga perlu diperhatikan. Siswa memiliki peran untuk mengikuti pembelajaran, menyelesaikan tugas, berinteraksi dalam kegiatan sekolah, dan mengembangkan kemampuan akademiknya. Ketika siswa mengalami tekanan sosial dan persoalan keluarga, kemampuan menjalankan peran tersebut dapat terganggu. Penurunan prestasi belajar dalam kondisi seperti ini seharusnya tidak langsung dipahami sebagai kurangnya kemampuan atau kemalasan siswa. Bisa jadi terdapat persoalan sosial dan emosional yang lebih mendasar yang belum mendapatkan perhatian.

Kondisi ekonomi keluarga juga perlu dilihat secara objektif. Keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan pendidikan, seperti perlengkapan belajar, transportasi, kebutuhan kegiatan sekolah, maupun kebutuhan lainnya. Namun, kondisi ekonomi keluarga bukan merupakan kesalahan siswa dan tidak seharusnya menjadi alasan bagi siswa untuk memperoleh perlakuan yang berbeda. Justru di sinilah pentingnya sekolah sebagai lingkungan yang memberikan dukungan dan membuka akses terhadap sumber daya yang dapat membantu siswa tetap memperoleh kesempatan pendidikan secara layak.

Dalam konteks tersebut, guru BK memiliki peran yang strategis. Guru BK tidak hanya berfungsi memberikan konseling ketika siswa mengalami masalah, tetapi juga membantu siswa memahami dirinya, memperbaiki hubungan sosial, mengembangkan kemampuan menghadapi masalah, serta menghubungkan siswa dengan sumber daya yang tersedia. Konseling individual dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan ruang yang aman bagi siswa dalam mengungkapkan pengalaman dan perasaannya. Keterampilan mendengarkan, empati, refleksi, dan eksplorasi menjadi penting agar guru BK tidak terburu-buru memberikan nasihat sebelum memahami masalah secara utuh.

Penanganan masalah ejekan juga tidak seharusnya dibebankan kepada siswa yang menjadi sasaran. Guru BK perlu bekerja sama dengan wali kelas dan pihak sekolah untuk menciptakan iklim sekolah yang aman dan menghargai setiap siswa. Apabila perilaku tersebut telah memenuhi karakteristik perundungan, penanganannya perlu dilakukan secara sistematis sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pada saat yang sama, siswa dapat dibantu mengembangkan kembali keterampilan sosial dan kepercayaan dirinya melalui bimbingan kelompok maupun kegiatan yang memungkinkan terjadinya interaksi positif dengan teman sebaya.

Menurut saya, pendekatan keberfungsian sosial memberikan pelajaran penting bagi guru BK bahwa perubahan pada siswa tidak dapat dilepaskan dari perubahan atau dukungan lingkungan. Siswa memang perlu dibantu untuk mengembangkan kemampuan dirinya, tetapi sekolah juga harus memastikan bahwa lingkungan sosialnya memberikan kesempatan untuk berkembang. Dengan kata lain, membantu siswa bukan hanya berarti mengubah siswa agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi juga memastikan bahwa lingkungan mampu menjadi tempat yang mendukung perkembangan siswa.

Pada akhirnya, masalah menyendiri, ejekan teman, penurunan prestasi, dan kesulitan ekonomi keluarga perlu dipahami sebagai rangkaian persoalan yang dapat saling memengaruhi. Teori keberfungsian sosial Zastrow membantu melihat siswa secara lebih utuh, yaitu sebagai individu yang memiliki kebutuhan, peran, kemampuan, serta hubungan dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, layanan BK hendaknya tidak berhenti pada penyelesaian masalah yang tampak, tetapi diarahkan pada pemulihan keberfungsian sosial siswa agar ia mampu kembali berinteraksi secara sehat, menjalankan perannya sebagai peserta didik, memanfaatkan dukungan yang tersedia, dan berkembang sesuai potensinya.

Bagi saya, keberhasilan layanan BK bukan hanya ketika masalah siswa dapat berkurang, tetapi ketika siswa kembali memiliki kesempatan untuk berfungsi secara optimal di lingkungan sekolah. Sekolah yang baik bukan sekadar sekolah yang mampu meningkatkan prestasi akademik, melainkan juga sekolah yang mampu memastikan setiap siswa merasa diterima, aman, dihargai, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles