Sunday, February 15, 2026

Wiosan Setu-Paingan Digelar Khidmat di Pitara Pancoran Mas, Ruang Penyelarasan Batin dan Penyembuhan

ACTUALNEWS.ID Depok, Wiosan Setupaingan diselenggarakan dengan khidmat di kawasan Pitara, Kecamatan Pancoran Mas, tepatnya di Jalan Wadas 7A, Depok Baru, Depok, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini menjadi ruang temu batin yang hadir mengikuti irama penanggalan Jawa, saat Setu (Sabtu) bertemu Paing sebuah momentum yang diyakini sebagai waktu peka ketika energi raga, rasa, dan pikir berada pada titik waspada sekaligus terbuka.

Dalam tradisi Jawa, Setupaingan dikenal sebagai saat yang baik untuk ngresiki batin, nyawiji rasa, dan nyelaraské urip. Wiosan bukan sekadar pertemuan lahiriah, melainkan laku eling lan waspada dalam mengolah keheningan di tengah dinamika kehidupan. Ia menjadi ikhtiar menyelaraskan diri dengan getaran semesta, sekaligus membuka ruang penyembuhan bagi siapa pun yang tengah memanggul beban hidup baik fisik, psikis, maupun batin.

Setupaingan dirancang sebagai ruang kebersamaan yang terbuka dan inklusif. Setiap peserta diterima apa adanya, tanpa sekat latar belakang sosial, agama, maupun komunitas.

Dalam pandangan ajaran Sastrajendra Living Academy, penyembuhan sejati lahir ketika manusia berani menepi sejenak, memberi ruang pada rasa, dan kembali menyadari cahaya dalam dirinya. Spirit inilah yang menjadi napas penyelenggaraan Wiosan.

Pada kesempatan ini, peserta diajak menjalani sejumlah laku spiritual yang sarat makna simbolik dan kontemplatif, antara lain:

  1. Ngresiki diri melalui prosesi pageni/jamasan, sebagai simbol pelepasan beban lama dan penyucian diri.
  2. Nyawiji dalam meditasi bersama, menata ulang napas, rasa, dan kesadaran agar kembali pada pusat diri.
  3. Ngluhuraké panyuwunan melalui doa dan healing, sebagai wujud sumarah kepada Karsa Gusti, demi pemulihan sukma menuju keseimbangan hidup.
    “Kami memohon izin kepada jagat cilik dan jagat gede agar Wiosan ini berjalan dalam ketenteraman, dinaungi kejernihan, dan disucikan oleh kehendak Ilahi,” ujar Rohmani, Ketua Panitia Pelaksana, dalam sambutan pembukaan.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Mantra Sedulur Papat yang dipimpin Anggoro bersama audiens yang bersedia mengikuti. Mantra ini dimaknai sebagai upaya menyelaraskan empat unsur diri agar kembali harmonis, menyatukan unsur lahir dan batin dalam satu kesadaran utuh.

Selanjutnya dibacakan Mantra Kalacakra dan Panyuwunan sebagai simbol perputaran waktu dan kesadaran manusia dalam siklus kehidupan.

Ritual utama pageni bersama dipimpin oleh Romo Toni Junus Kanjeng Gung, Romo Teguh Eko Putrororeng, serta Anggoro Andi Saputra. Prosesi berlangsung penuh kekhusyukan, menghadirkan suasana reflektif yang mendalam bagi seluruh tamu undangan. Seluruh yang hadir diajak untuk benar-benar “hadir” dalam setiap tarikan napas dan getar doa.
Dalam pesannya, Romo Toni Kanjeng Gung menegaskan bahwa Setupaingan menjadi ruang publik para spiritualis untuk melepas baju paguyuban, mempererat silaturahmi, dan bersama-sama meningkatkan pembangunan mental spiritual bangsa Indonesia menuju peradaban baru yang lebih berkesadaran.

Salah satu bagian penting dalam Wiosan ini adalah penyajian Sesaji Barikan, berdasarkan wisik yang diterima sesepuh dari Sastrajendra Living Academy. Dalam tradisi Jawa, sesaji merupakan persembahan sederhana yang sarat simbol dan doa.
Adapun sesaji yang disiapkan antara lain:

  1. Ampyang Kambil Merah dan Putih (Masing-Masing 21 Biji)
    Ditata dalam satu tampah, angka 21 (selikuran) dipahami sebagai ambang kesempurnaan fase peralihan dari ruwet menuju runtut, dari peteng menuju padhang.
    Dalam hitungan Jawa:
  • 2 (loro) melambangkan dualitas: lahir–batin, raga–sukma.
  • 1 (siji) melambangkan tunggal, manunggal, asal mula.

Makna ini menjadi simbol harapan agar setiap peserta mampu menyatukan dualitas dalam dirinya menuju keselarasan.

  1. Bubur Sengkala Merah dan Putih
    Bubur merah dari gula Jawa dan bubur putih dari santan, sesuai tradisi weton, lazim disajikan dalam wiyosan, ruwatan, atau slametan sebagai simbol pembersihan dan permohonan keselamatan. Bubur sengkala menjadi wujud harapan untuk menghapus hal-hal buruk serta membuka lembaran baru yang lebih baik.
  2. Teh Pahit dan Kopi Pahit
    Disajikan dalam gelas sederhana, minuman ini melambangkan penerimaan atas pahit-manis kehidupan, sekaligus kesiapan batin menjalani setiap fase dengan kesadaran dan keteguhan.

Acara diawali dengan pembukaan oleh Rohmani selaku Ketua Panitia Pelaksana. Sambutan komunitas disampaikan oleh Ki Sunarto dari Metafisika Study Club, yang menekankan pentingnya menjaga harmoni antara dimensi spiritual dan kehidupan sosial.

Ceramah bertema Karejekian dibawakan oleh Romo BEP (Bambang Eko Priyono). Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta memahami rezeki bukan semata dalam bentuk materi, melainkan juga ketenteraman batin, kesehatan, relasi yang harmonis, serta kejernihan pikir dalam mengambil keputusan hidup.
Rezeki, menurutnya, adalah kesadaran untuk mensyukuri setiap anugerah kehidupan, sekecil apa pun itu.

Ritual utama dan ceramah puncak kembali dipimpin oleh Romo Toni Junus Kanjeng Gung bersama Romo Teguh Eko Putrororeng dan Anggoro Andi Saputra. Pesan yang mengemuka adalah pentingnya kesadaran diri sebagai jalan menuju kebijaksanaan dan keselamatan hidup.
Ruang Publik Spiritual Menuju Peradaban Berkesadaran
Setupaingan menjadi ruang publik para spiritualis untuk melepas sekat identitas kelompok, mempererat silaturahmi, serta bersama-sama meningkatkan pembangunan mental spiritual bangsa Indonesia menuju peradaban baru yang lebih berkesadaran.

Acara ditutup oleh Ki Sunarto dengan ajakan agar setiap peserta membawa pulang ketenangan dan kesadaran baru, serta menghidupkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Wiosan Setupaingan bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk pulang pada keseimbangan, pada keheningan, dan pada diri sejati. Dalam keheningan itulah manusia diingatkan untuk kembali menyadari jati dirinya sebagai bagian dari jagat raya.
Dengan semangat kebersamaan dan ketulusan niat, Wiosan Setupaingan di Pitara, Pancoran Mas, Depok menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk zaman modern, manusia tetap memiliki ruang untuk menepi, menata batin, dan menyelaraskan hidup dalam terang kesadaran.ACN/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles