WARGA “PAS-PASAN” MASUK DESIL MENENGAH KE ATAS PATUT DIPERTANYAKAN?


ACTUALNEWS. ID Jakarta, 20 Agustus 2026 – Banyak warga mengeluhkan kondisi keuangan yang masih “pas-pasan” setiap bulan. Namun ironisnya, saat dicek data Badan Pusat Statistik, sebagian dari mereka masuk ke dalam kelompok desil 5, 6, dan 7. Artinya masuk 40% – 70% penduduk dengan pendapatan tertinggi di Indonesia. Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah pengelompokan desil masih relevan menggambarkan kesejahteraan?

Desil adalah pembagian 10 kelompok penduduk berdasarkan pendapatan. Desil 5, 6, dan 7 disebut kelompok “menengah”. Di wilayah Jabodetabek tahun 2026, rentang pendapatan rumah tangga desil 5 – 7 berada di kisaran Rp 3,2 juta hingga Rp 6,5 juta per bulan.

“Gaji 5 Juta, Tapi Minus Tiap Bulan”
Andi, 31, karyawan di Jakarta Timur mengaku gajinya Rp 5,5 juta/bulan. Secara data ia masuk desil 6.

“Masak dibilang menengah atas. Bayar kontrakan 1,5 juta, cicilan motor 800 ribu, makan 2 juta, sisanya buat anak. Kalau ada yang sakit langsung boncos. Ini mah pas-pasan banget,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Sari, ibu rumah tangga di Bekasi. “Masuk desil 5 katanya. Tapi harga beras naik, listrik naik, uang sekolah naik. Nabung 200 ribu aja udah syukur.”

Penyebab: Desil Hitung Pendapatan, Bukan Pengeluaran
Pengamat ekonomi dari INDEF, Eko Listiyanto, mengatakan persoalannya ada di metode penghitungan.

“Desil hanya melihat berapa uang yang masuk. Tidak menghitung berapa yang keluar, utang, tanggungan, dan biaya hidup di daerah itu. Di Jakarta, Rp 5 juta dengan 4 tanggungan jelas beda rasanya dengan Rp 5 juta di daerah,” jelasnya.

Faktor lain yang membuat “pas-pasan” masuk desil menengah:

  1. Biaya Hidup Tinggi: Komponen sewa, transport, dan pendidikan di kota besar menggerus 60-70% pendapatan.
  2. Beban Cicilan: Banyak rumah tangga desil 5-7 punya cicilan KPR, kendaraan, paylater.
  3. Tidak Ada Tabungan/Jaring Pengaman: Sekali kena musibah langsung jatuh ke bawah.

Tanggapan Pemerintah
Kementerian Sosial menyebut data desil digunakan untuk penargetan bantuan. Namun ke depan akan ditambah indikator “pengeluaran” dan “kerentanan” agar lebih tepat sasaran.

“Yang masuk desil 5-7 tapi rentan jatuh miskin ini yang harus kita jaga. Jangan sampai karena satu guncangan ekonomi mereka langsung ke desil 1-2,” kata pejabat Kemensos.

Kesimpulan
Masuk desil 5, 6, 7 bukan jaminan sejahtera. Di kota besar, kelompok ini justru paling rentan karena tidak dapat bansos, tapi juga belum cukup kuat menghadapi kenaikan harga.

“Pertanyaannya bukan ‘kenapa bisa masuk desil 5-7’, tapi ‘cukupkah ukuran desil untuk mengukur sejahtera atau tidak’. Ini yang harus kita evaluasi bersama,” tutup Eko.

ACN/DD/RED


Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles