SCROLL, CHAT, KONSELING: WAJAH BARU GURU BK GEN Z DI ERA DIGITAL

OPINI : YULI ASTRIANI ZEBUA (Mahasiswa Prodi BK Universitas Nias)

Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Sebagai salah satu dari generasi z, saya merasa teknologi tidak pernah lepas dari kehidupan. Sekarang kita sudah sangat dipermudah untuk melakukan tugas atau pekerjaan dengan banyak nya aplikasi-aplikasi AI yang sangat membantu. Contohnya aplikasi yaitu Chatgpt, Dola, Gemini AI, dsb. Saya sendiri sering menggunakan beberapa  aplikasi itu untuk mencari berbagai macam informasi, mengedit foto, atau  membantu merangkai sebuah kalimat.  

Perkembangan teknologi ini juga membuat semua berubah, termasuk cara manusia untuk berkomunikasi. Jika dulu seseorang harus bertemu secara langsung untuk menyampaikan cerita atau masalah, sekarang cukup dengan membuka ponsel dan mengirim pesan lewat aplikasi, misalnya Medsos dan platform digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perubahan ini juga membawa pengaruh dalam dunia pendidikan, salah satunya dalam layanan Bimbingan dan Konseling (BK). Dari sini saya mulai menyadari bahwa guru BK pada masa sekarang tidak cukup hanya memahami teori konseling, tetapi juga perlu memahami dunia digital yang dekat dengan kehidupan siswa. 

Saya melihat bahwa komunikasi melalui chat terkadang terasa lebih mudah dibandingkan berbicara secara langsung. Contohnya, ada siswa yang merasa malu atau takut ketika harus menceritakan masalahnya kepada guru secara tatap muka. Namun, ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan cerita melalui pesan, mereka bisa menjadi lebih terbuka dan lebih semangat untuk curhat atau bahasa gaulnya excited. Menurut saya, hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan antara guru BK dan siswa, selama digunakan dengan cara yang tepat.

Saya membayangkan seorang guru BK Gen Z yang tidak hanya berada di ruang konseling, tetapi juga mampu membangun hubungan baik dan  hadir di ruang digital yang sering digunakan siswa. Saya sendiri semasa sekolah, lebih menyukai guru BK yang gaul, akrab dengan siswa, dan mengikuti perkembangan/trend medsos dibanding dengan guru yang hanya sekedar  mengkonseling tanpa akrab atau memahami pribadi siswanya. Misalnya, guru dapat menggunakan aplikasi pesan untuk memberikan informasi mengenai jadwal konseling, membagikan materi tentang kesehatan mental dan pengembangan diri, atau membuat konten edukatif melalui media sosial sekolah. Bahkan, layanan konseling tertentu dapat dilakukan secara daring apabila situasinya memungkinkan dan tetap memperhatikan aturan serta privasi siswa.

Guru BK di era digital bukan berarti semua masalah dapat diselesaikan hanya melalui teknologi. Justru dari sini saya belajar bahwa teknologi hanyalah alat. Hal yang paling penting dalam proses konseling tetaplah hubungan manusia, yaitu kemampuan untuk mendengarkan, memahami, menghargai, dan memberikan rasa aman kepada siswa. Chat mungkin dapat membantu seseorang memulai percakapan, tetapi empati tetap menjadi bagian yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Saya juga menyadari bahwa penggunaan teknologi dalam layanan BK memiliki tantangan. Informasi pribadi yang disampaikan melalui pesan harus dijaga kerahasiaannya. Guru BK perlu berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan aplikasi digital agar tidak membuat data atau cerita pribadi siswa tersebar. Selain itu, tidak semua informasi yang ditemukan di internet dapat dipercaya. 

Guru BK perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi agar materi yang diberikan kepada siswa benar-benar bermanfaat dan tidak menyesatkan. Teknologi juga membuka banyak peluang bagi guru BK untuk menjadi lebih kreatif. Guru dapat membuat video pendek mengenai cara mengelola stres, infografis tentang pentingnya mengenali diri sendiri, atau membuat survei sederhana untuk mengetahui kebutuhan siswa. Dengan cara tersebut, layanan BK tidak selalu terasa seperti sesuatu yang formal dan menakutkan. BK dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.

Bagi saya, istilah “Scroll, Chat, Konseling” menggambarkan perubahan cara siswa berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Ketika siswa terbiasa melakukan berbagai aktivitas melalui layar, guru BK juga perlu memahami kebiasaan tersebut. Bukan berarti guru harus mengikuti semua tren yang ada, tetapi guru perlu mengetahui bagaimana teknologi memengaruhi cara siswa berpikir, berkomunikasi, belajar, dan menghadapi masalah.

Saya membayangkan seorang guru BK gen Z yang membuka media sosial sekolah dan melihat siswa berinteraksi di sana. Guru tersebut tidak hanya melihatnya sebagai aktivitas biasa, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memberikan edukasi yang positif. Ketika seorang siswa mengirim pesan dan mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami masalah, guru tidak langsung menghakimi atau memberikan nasihat panjang. Guru terlebih dahulu mendengarkan dan memahami situasinya. Bagi saya, inilah gambaran guru BK yang mampu memadukan teknologi dengan nilai kemanusiaan.

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles