ACTUALNEWS.ID JAKARTA — Prof. F. Dr. Gono Semiadi menjadi salah satu pemberi orasi ilmiah dalam Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture 2026 sekaligus meraih penghargaan dalam acara Sarwono Award 2026 yang digelar di Balai Pertemuan BRIN, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Gono Semiadi menyoroti pentingnya pemulihan habitat dan keanekaragaman hayati setelah terjadi kerusakan lingkungan, termasuk akibat kebakaran. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi habitat tidak sekadar ditandai dengan kembali tumbuhnya vegetasi, tetapi harus mampu mengembalikan kondisi ekosistem sedekat mungkin dengan keadaan awal.
“Kalau sudah memulihkan habitat, inginnya mengembalikan apa yang pernah ada atau yang ada di situ dulu. Pertanyaannya sekarang kita melakukan assessment dengan menggunakan baseline data yang ada. Kalau ada spesies, apa saja yang diangkat di situ,” ujar Prof. Gono.
Ia menjelaskan, dalam konteks rehabilitasi dari perspektif biodiversitas, kondisi ekosistem yang dipulihkan harus sedekat mungkin dengan kondisi awal sebelum mengalami kerusakan.
“Karena konteks untuk melakukan rehab dari perspektif biodiversity, kita kembalikan sedekat mungkin ke konteks yang awalnya. Itu yang namanya sukses. Dan itu kita harus duduk melihat ke data dasar, ada nggak, apa saja. Itu yang menjadi challenge,” katanya.
Menurutnya, salah satu persoalan yang dihadapi adalah semakin terbatasnya data dasar mengenai kondisi ekosistem sebelum mengalami kerusakan. Karena itu, penggunaan data pembanding atau proxy menjadi salah satu pilihan, meskipun hasilnya tetap berupa perkiraan.
“Data yang ada makin susah. Menggunakan proxy juga, moga-moga bisa. Ya, proxy juga, tapi kan itu hanya suatu perkiraan,” ungkapnya.
Kebakaran dan tantangan implementasi regulasi
Prof. Gono juga menyinggung persoalan pembakaran yang kerap menjadi isu setiap tahun. Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata dapat dilihat dari satu sisi, tetapi harus dikaitkan dengan konteks efisiensi dan bagaimana regulasi diterapkan di lapangan.
“Kalau isu membakar oknum itu kan selalu lah dari tiap tahun, tidak perlu menunggu hal ini. Karena itu selalu berbicara tentang konteks efisiensi,” ujarnya.
Ia mempertanyakan bagaimana implementasi regulasi dapat dilakukan secara ketat, terutama dalam mengelola berbagai aktivitas agar tidak memberikan dampak negatif yang terlalu besar terhadap lingkungan.
“Pertanyaannya itu dalam implementasi regulasi, setiap bentuk implementasi bagaimana kita mampu untuk ketat mengelola setiap bentuk daripada aktivitas, untuk ketentuan dari masing-masing perusahaan itu tidak berdampak terlalu banyak negatif,” kata Prof. Gono.
Terkait praktik pembakaran, ia juga mengingatkan adanya masyarakat tradisional yang secara turun-temurun menggunakan metode pembakaran untuk tujuan tertentu. Karena itu, menurutnya, perlu dibedakan antara pembakaran untuk kepentingan subsistensi masyarakat dengan pembakaran yang dilakukan untuk kepentingan lainnya.
“Jangan lupa masyarakat tradisional itu memang menggunakan konteks bakar. Tapi sekarang kan kita harus lihat, ini bakar untuk tujuan subsistensi yang bersangkutan. Itu sebetulnya hanya di balik layar. Ini yang menjadi pantang kalau di Kalimantan itu,” tuturnya.
Ancaman terhadap flora dan fauna
Lebih jauh, Prof. Gono menyoroti jenis tumbuhan dan satwa khas Kalimantan yang berpotensi terdampak akibat kebakaran. Ia memberikan contoh pohon yang dikenal memiliki ketahanan terhadap panas dan kondisi lingkungan ekstrem.
“Kalau tumbuhan itu kan kayak istilahnya apa, kayu besi. Kayu besi itu kan dikenal sangat tahan panas, tahan segala rupa, yaitu kayu hitam,” jelasnya.
Namun, menurutnya, ketahanan pohon induk terhadap panas dan kebakaran tidak otomatis berarti generasi berikutnya juga mampu bertahan.
“Tapi pertanyaannya, apakah seedling, anak-anakannya itu, mereka mampu hidup, bertahan ketika adanya kebakaran semacam ini? Mungkin yang disebut dewasa, pohon induk, terbakar, hilang itu daun. Mungkin dia bisa regrowth. Tapi pertanyaannya kan tidak hanya bicara pohon induk. Anak-anak yang ada di bawah itu, kan sebagai generasi penerus,” katanya.
Hal tersebut menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya pemulihan ekosistem karena keberlangsungan biodiversitas tidak hanya bergantung pada pohon-pohon dewasa, tetapi juga pada regenerasi alami.
Sementara dari sisi satwa, Prof. Gono mencontohkan orangutan yang sangat bergantung pada keberadaan pohon tinggi dan kanopi sebagai jalur untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Kalau hewan, semuanya akan kembali seperti orangutan. Orangutan, tadi Pak Yatnes menyampaikan bahwa dia sangat tergantung pada pohon tinggi, kanopi tinggi. Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi yang saling punya connectivity di antara daun,” ungkapnya.
Menurut dia, keberadaan pohon dalam jumlah banyak belum tentu menjamin habitat satwa tetap berfungsi apabila tidak terdapat konektivitas antarkanopi.
“Sekarang harus kita lihat apakah konektivitas antarbatang di percabangan di puncak sana itu ada atau tidak. Kalau tidak ada, biarkan di situ ada 100 tegakan pohon, tapi tidak ada konektivitas, berarti habitat dari pergerakannya sudah hilang,” ujarnya.
Pemadaman dan teknologi modifikasi cuaca
Dalam menghadapi kebakaran, Prof. Gono menyebut langkah paling cepat tentu adalah melakukan pemadaman. Namun, tantangan berikutnya adalah menentukan metode pemadaman yang paling efektif dalam kondisi lingkungan tertentu.
“Langkah yang tercepat ya pasti masalah pemadaman, tapi apakah bisa cepat? Nah, ini yang susah. Pemadaman yang lebih cepat itu pakai metode apa sih?” katanya.
Ia juga menyinggung teknologi pemadaman yang telah disampaikan oleh Kepala BRIN. Namun, menurutnya, penggunaan teknologi tersebut tetap harus memperhatikan kondisi lingkungan mikro yang menjadi faktor pendukung.
“Persoalannya kan tadi Pak Kepala sudah menyampaikan, benar-benar punya teknologi untuk pemadaman. Pertanyaannya, kecukupan syarat minimum lingkungan mikro apakah terpenuhi atau tidak?” ujar Prof. Gono.
Menurutnya, faktor hujan juga menjadi salah satu unsur penting dalam upaya mengendalikan kebakaran. Dalam kondisi kemarau panjang, persoalannya adalah apakah terdapat bibit-bibit awan yang cukup untuk mendukung proses tersebut.
“Perlu hujan? Oh iya, perlu pakai hujan, pakai mikro dan … Pertanyaannya, bibit-bibit awan itu dalam situasi sekarang, kemarau panjang, ada atau tidak?” katanya.
Ia menambahkan, apabila kondisi dasar alam belum tersedia, teknologi hanya dapat berfungsi sebagai upaya untuk mempercepat proses yang memang sudah memungkinkan secara alami.
“Kalau belum ada, sebetulnya bibit-bibit awan itu kan masih tergantung pada awan. Kalau kita kan hanya proses mempercepat. Kalau modal dasarnya ada, setelah alam…” pungkasnya.ACN/RED
