Rapat Pleno SWI Jaya Mantapkan Konsolidasi, Tegaskan Komitmen pada Etika dan Independensi Pers

ACTUALNEWS.ID Jakarta, — Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) DPW Jakarta atau SWI Jaya menggelar Rapat Pleno dalam rangka memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memantapkan struktur kepengurusan di tingkat wilayah.

Rapat yang berlangsung Sabtu, (22/8/2026), di Jalan Teluk Betung No. 40, Jakarta Pusat, digelar berdasarkan Surat Mandat Nomor: 0153/SM-DPW/DPP-SET/VIII/2026 tentang Pembentukan Pengurus Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) DPW Jakarta.

Rapat pleno dibuka langsung oleh Syamsul Arifin (Masdjo), Ketua DPW SWI Jaya. Agenda kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dan pemantapan kepengurusan DPW SWI DKI Jaya, termasuk berbagai langkah strategis untuk memperkuat keberadaan organisasi serta persiapan pembentukan struktur kepengurusan.

Sejumlah jajaran pengurus SWI Jaya hadir dalam rapat tersebut bersama Dewan Pembina dan Dewan Penasihat. Kehadiran unsur pimpinan dan jajaran organisasi menjadi bagian penting dari proses konsolidasi untuk memastikan SWI Jaya memiliki struktur yang solid, efektif, dan mampu menjalankan fungsi organisasi secara profesional.

Selain membahas aspek kelembagaan, rapat juga menempatkan persoalan integritas dan etika jurnalistik sebagai fondasi penting bagi perjalanan organisasi.

Dewan Pembina SWI Jaya, M. Guntur Alting, menegaskan bahwa tantangan terbesar bagi wartawan yang berhimpun di bawah SWI Jaya bukan hanya membangun organisasi, tetapi juga menjaga marwah profesi di tengah perubahan lanskap media yang semakin cepat.

«“Di sinilah letak ujian terberat bagi wartawan yang bernaung di bawah SWI Jaya. Organisasi ini harus berdiri sebagai benteng,” ujar M. Guntur Alting.»

Menurutnya, Kode Etik Jurnalistik tidak boleh berhenti sebagai dokumen formal atau sekadar materi dalam uji kompetensi wartawan. Kode etik harus menjadi pedoman moral yang membimbing setiap insan pers dalam menjalankan profesinya.

“Kode etik jurnalistik bukan sekadar hafalan uji kompetensi atau hiasan di dinding kantor redaksi, melainkan sebuah panglima moral,” tegasnya.

Ia menambahkan, SWI Jaya harus mampu merawat identitas organisasi sebagai wadah wartawan yang kredibel, independen, dan objektif. Prinsip tersebut dinilai semakin penting di tengah persaingan media digital yang kerap menjadikan kecepatan dan jumlah klik sebagai ukuran utama keberhasilan sebuah pemberitaan.

SWI Jaya, kata dia, tidak boleh kehilangan orientasi jurnalistik hanya demi mengejar trafik.

“SWI Jaya harus konsisten merawat identitasnya: menjadi wadah yang kredibel, independen, dan objektif, yang menolak tunduk pada tirani clickbait,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa konsolidasi organisasi tidak semata-mata berkaitan dengan penyusunan struktur kepengurusan. Lebih jauh, proses tersebut diharapkan menjadi momentum untuk membangun budaya organisasi yang menjunjung tinggi profesionalisme, keberimbangan, verifikasi, independensi, serta tanggung jawab sosial pers.

Rapat pleno SWI Jaya juga menjadi langkah awal untuk memperkuat koordinasi internal sekaligus menyatukan visi seluruh jajaran dalam menghadapi tantangan dunia jurnalistik di era digital.

Dengan fondasi organisasi yang kuat dan komitmen terhadap etika jurnalistik, SWI Jaya diharapkan mampu menjadi ruang berhimpun bagi wartawan yang tidak hanya aktif dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga kepercayaan publik terhadap pers.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, wartawan bukan sekadar pemburu berita dan organisasi pers bukan sekadar wadah administratif. Keduanya memiliki tanggung jawab yang sama: menjaga agar kebenaran tidak kalah oleh kecepatan, dan fakta tidak dikalahkan oleh kepentingan.ACN/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles