PPA Agape Gelar Edukasi Pengasuhan, Orang Tua Diajak Peduli Kesehatan Mental Anak

0
11

ACTUAL NEWS, SUMATERA UTARA – 25 Oktober 2026 — Kepedulian terhadap kesehatan mental anak menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi pengasuhan yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Anak (PPA) IO-0120 Agape, Gereja BNKP Jemaat Lowalangida Zatulo, Kota Gunungsitoli, Minggu (25/10/2026) malam. Kegiatan ini menghadirkan Justin Foera-era Lase, dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nias.

Mengangkat tema “Anak Hebat, Hati yang Kuat: Peran Ayah dan Ibu dalam Menjaga Kesehatan Mental Generasi Alpha”, kegiatan ini mengajak orang tua, khususnya yang memiliki anak usia 9–11 tahun, untuk memahami bahwa pengasuhan bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membangun kedekatan emosional dan menciptakan ruang aman bagi anak untuk bertumbuh.

Dalam pemaparannya, Justin menegaskan bahwa kebutuhan emosional anak perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kebutuhan sehari-hari.

“Anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan, dan fasilitas yang memadai. Mereka juga membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami perasaannya, dan hadir ketika mereka menghadapi kesulitan. Jangan sampai kita begitu sibuk memenuhi kebutuhan anak, tetapi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati mereka,” ujar Justin.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh pada era digital menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Akses terhadap teknologi dan informasi semakin luas, sehingga orang tua perlu meningkatkan pemahaman agar dapat mendampingi anak secara bijak.

“Kita tidak bisa mendampingi anak menghadapi perkembangan zaman hanya dengan larangan. Orang tua juga harus belajar memahami dunia digital yang dihadapi anak. Yang paling penting bukan sekadar mengawasi apa yang mereka lihat, tetapi membangun hubungan yang membuat mereka merasa nyaman untuk bercerita ketika menghadapi masalah,” katanya.

Menurut Justin, komunikasi yang terbuka merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Orang tua perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita anak, memahami sudut pandangnya, dan merespons persoalan tanpa terburu-buru menyalahkan atau membandingkannya dengan anak lain.

“Kadang-kadang, anak tidak langsung membutuhkan nasihat. Mereka hanya ingin didengarkan terlebih dahulu. Ketika anak bercerita, jangan buru-buru menghakimi. Dengarkan, pahami perasaannya, lalu dampingi mereka menemukan jalan keluar,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan perlu dijalankan bersama oleh ayah dan ibu. Kehadiran keduanya sangat berarti dalam memberikan teladan, membangun rasa aman, menetapkan batasan yang sehat, dan membantu anak mengembangkan kemampuan menghadapi persoalan.

“Kesehatan mental anak bukan hanya tanggung jawab ibu atau ayah saja. Anak membutuhkan dukungan keduanya. Kehadiran orang tua bukan semata-mata diukur dari seberapa banyak yang diberikan, tetapi juga dari seberapa jauh mereka terlibat dalam kehidupan dan perkembangan anak,” tambahnya.

Lebih lanjut, Justin mengajak orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku dan emosi anak. Perubahan yang berlangsung terus-menerus, seperti anak semakin menarik diri, kehilangan minat terhadap kegiatan yang disukai, atau mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti secara tepat.

“Jangan menunggu sampai masalah anak menjadi besar baru kita mulai memperhatikan. Orang tua adalah orang-orang terdekat yang dapat mengenali perubahan pada anak. Jika kesulitan yang dialami anak terus berlanjut dan mengganggu kesehariannya, jangan ragu mencari bantuan profesional,” tegasnya.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari salah seorang orang tua peserta. Ia menyampaikan terima kasih kepada narasumber karena materi yang disampaikan memberikan pengingat penting tentang peran keluarga dalam mendampingi perkembangan anak.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Justin atas materi yang disampaikan. Selama ini, sebagai orang tua, kami sering berfokus pada kebutuhan anak sehari-hari. Melalui kegiatan ini, kami diingatkan bahwa anak juga membutuhkan perhatian, waktu, dan komunikasi yang baik. Semoga ilmu yang kami dapatkan bisa kami terapkan di rumah dan kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan kembali,” ungkap orang tua tersebut.

Apresiasi itu memperlihatkan pentingnya ruang edukasi bagi orang tua untuk belajar dan merefleksikan pola pengasuhan yang diterapkan dalam keluarga. Pemahaman tentang kebutuhan emosional anak diharapkan dapat mendorong orang tua membangun kebiasaan sederhana, seperti menyediakan waktu berbicara setiap hari, mendengarkan tanpa menghakimi, serta mendampingi anak menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

“Ketika keluarga dan komunitas berjalan bersama, anak memiliki lingkungan yang lebih kuat untuk tumbuh, merasa aman, dan berkembang secara optimal. Karena itu, inisiatif PPA Agape dalam memberikan edukasi kepada orang tua patut diapresiasi dan diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya untuk semakin peduli terhadap kesehatan mental anak,” pungkas Justin Foera-era Lase, yang juga sedang menempuh studi doktoral (S-3) bidang Bimbingan dan Konseling.

PPA IO-0120 Agape mendapat apresiasi atas inisiatifnya menghadirkan edukasi pengasuhan yang mengangkat isu penting bagi kehidupan keluarga. Kegiatan ini menjadi wujud perhatian terhadap tumbuh kembang anak yang tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan dan kebutuhan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental, kedekatan keluarga, dan pembentukan karakter. Upaya seperti ini diharapkan terus berlanjut agar orang tua memiliki ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat perannya dalam mendampingi anak menghadapi tantangan zaman.

Sumber Foto: Facebook Justin Lase