ACTUALNEWS.ID, Jeneponto – Rencana pembangunan Gedung Kelompok Bermain (Kober) Ananda di wilayah Dusun Batu-Batua, Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, menuai penolakan dari sebagian masyarakat setempat. Penolakan ini muncul akibat adanya permasalahan kepemilikan lahan dan tuntutan ganti rugi atas pengoperan tanah yang menjadi lokasi rencana pembangunan gedung tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan Gedung Kober Ananda berada di perbatasan antara Dusun Batu-Batua dan Dusun Buttaleleng. Sejumlah warga menilai bahwa status lahan tersebut masih menimbulkan polemik karena belum ada kejelasan antara pihak pengelola dan pihak pemilik tanah, termasuk permasalahan akses jalan menuju lokasi yang dinilai belum memadai.
Berdasarkan surat keterangan pengoperan hak tanah yang ditandatangani oleh pihak pemilik, disebutkan bahwa tanah tersebut merupakan milik keluarga yang dikelola secara turun-temurun dan belum pernah dialihkan secara resmi kepada pihak lain. Dalam surat tersebut, pihak pemilik juga meminta adanya ganti rugi sebesar Rp150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) sebelum proses pembangunan dapat dilanjutkan, serta meminta agar pengelolaan Kober Ananda tetap berada dalam garis keturunan keluarga pemilik lahan.
Menanggapi hal tersebut, masyarakat Dusun Batu-Batua menyatakan keberatan atas rencana pembangunan di lokasi tersebut. Warga menilai, isi surat keterangan pengoperan tanah justru dapat memicu konflik baru dan menghambat tujuan utama pembangunan yang seharusnya untuk kepentingan pendidikan anak-anak.
Sementara itu, salah seorang warga bernama H. Taga menyampaikan pandangannya bahwa jika pembangunan dilakukan untuk kepentingan pendidikan, seharusnya tidak perlu ada tuntutan ganti rugi. “Kalau untuk pembangunan yang bermanfaat bagi anak-anak, tidak perlu ada ganti rugi dari pihak mana pun,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah pihak menilai bahwa dari segi manfaat, lokasi yang direncanakan justru berdekatan dengan TK Umroh yang berada di wilayah Dusun Buttaleleng. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan ketimpangan manfaat bagi masyarakat Dusun Batu-Batua, yang seharusnya menjadi penerima utama dampak positif pembangunan gedung Kober tersebut.
Masyarakat pun berharap agar semua pihak dapat melihat persoalan ini dari sisi manfaat dan kepentingan bersama, bukan dari kepentingan pribadi atau kelompok. “Jangan karena ego sektoral dan perebutan status pengelola, pembangunan jadi terhambat dan anak-anak yang menjadi korban,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.
jeneponto bahagia (Asriel).
ACN/RED
