ACTUALNEWS ID, JAKARTA — Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Duta Kasih akan menggelar ibadah bersama jemaat dengan menghadirkan Pdt. Hiliong Seng Kombu sebagai pembicara. Ibadah tersebut akan berlangsung di GSJA Duta Kasih, Jalan Kusuma VI C Blok A7A No. 4–5, Kompleks Duta Mas, RT 5/RW 12, Jelambar, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11460.

Dalam khotbahnya, Pdt. Hiliong Seng Kombu akan mengangkat pesan rohani yang bersumber dari Lukas 13:6–9, tentang perumpamaan pohon ara yang tidak menghasilkan buah.
Pesan tersebut membawa jemaat pada sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sekaligus menohok: setelah sekian lama mengikuti Tuhan, buah apa yang sudah dihasilkan dalam kehidupan kita?
Perumpamaan dalam Lukas 13:6–9 menggambarkan seorang pemilik kebun yang datang mencari buah pada pohon ara yang telah ditanamnya. Namun, selama tiga tahun, pohon tersebut tidak juga menghasilkan buah.
Pemilik kebun kemudian meminta agar pohon itu ditebang. Namun, pengurus kebun memohon agar pohon tersebut diberi kesempatan satu tahun lagi. Tanah di sekelilingnya akan dicangkul dan diberi pupuk. Jika kemudian tetap tidak berbuah, barulah pohon itu ditebang.
“Tuhan Cari Buah, Bukan Sekadar Daun”
Pesan utama yang ditekankan dalam materi khotbah tersebut adalah bahwa kehidupan orang percaya tidak cukup hanya terlihat baik dari luar.
Buah yang dimaksud bukan sekadar pencapaian atau aktivitas keagamaan, melainkan perubahan hidup yang nyata.
Materi khotbah mengaitkannya dengan buah Roh dalam Galatia 5:22–23, yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Dengan demikian, ukuran pertumbuhan iman bukan hanya seberapa lama seseorang menjadi orang Kristen, melainkan seberapa nyata karakter Kristus terlihat melalui kehidupannya.
Kesempatan Tidak Berarti Tanpa Batas, Salah satu pesan yang paling kuat adalah tentang kesempatan.
Pengurus kebun dalam perumpamaan meminta tambahan waktu untuk merawat pohon yang tidak berbuah. Gambaran ini menjadi refleksi bahwa Tuhan masih memberikan waktu, kesempatan, kesabaran, dan ruang bagi manusia untuk berubah.
Namun, kesempatan tersebut bukan alasan untuk terus menunda pertobatan.
Waktu yang diberikan Tuhan seharusnya digunakan untuk bertobat, berubah, bertumbuh, dan menghasilkan buah.
Pesan ini menjadi semakin relevan di tengah kehidupan manusia yang sering kali merasa masih memiliki banyak waktu.
Seseorang bisa berkata, “Nanti saya berubah. Nanti saya memperbaiki diri. Nanti saya lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan.”
Tetapi tidak seorang pun mengetahui berapa panjang kesempatan yang masih dimilikinya.
Karena itu, pesan khotbah tersebut mengajak jemaat untuk tidak menunggu hari esok untuk melakukan perubahan yang seharusnya dilakukan hari ini.
“Kita Perlu Dicangkul”

Materi khotbah juga menggunakan gambaran yang cukup tajam: tanah perlu dicangkul.
Secara rohani, “mencangkul” menggambarkan proses Tuhan mengolah kehidupan manusia agar menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan.
Proses itu tidak selalu nyaman.
Ego mungkin harus dicangkul. Kesombongan harus dicangkul. Iri hati harus dicangkul. Amarah juga harus dicangkul.
Dengan kata lain, ada bagian-bagian dalam diri manusia yang harus dibongkar agar kehidupan dapat menghasilkan buah yang lebih baik.
Proses perubahan membutuhkan kerendahan hati. Sebab, tidak mudah bagi seseorang mengakui bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang harus diperbaiki.
Namun justru melalui proses itulah kehidupan dapat mengalami pertumbuhan.
Dari “Pohon” Menjadi Berkat

Pesan berikutnya membawa jemaat pada pemahaman bahwa kehidupan orang percaya seharusnya tidak berhenti pada pertumbuhan pribadi.
Buah yang baik juga harus dapat dirasakan orang lain.
Kasih yang dimiliki harus menjadi kasih yang nyata. Kebaikan harus diwujudkan dalam tindakan. Kesetiaan harus terlihat dalam kehidupan. Penguasaan diri harus tampak ketika menghadapi tekanan dan persoalan.

Dengan demikian, iman bukan hanya sesuatu yang dibicarakan di dalam gereja, tetapi sesuatu yang dihidupi di tengah keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.
Kehidupan yang berbuah pada akhirnya menjadi kesaksian.
Menjadi Murid dan Memuridkan
Materi khotbah juga mengarahkan jemaat pada panggilan untuk menjadi murid dan memuridkan.
Pertumbuhan iman tidak seharusnya berlangsung sendirian. Orang percaya dipanggil untuk bertumbuh bersama, saling menguatkan, saling mengingatkan, dan membawa orang lain semakin dekat kepada Kristus.
Karena itu, buah kehidupan seorang Kristen bukan hanya tentang “seberapa baik saya”, tetapi juga seberapa besar kehidupan saya menjadi berkat bagi orang lain.
Pesan tersebut menempatkan gereja bukan sekadar sebagai tempat berkumpul setiap minggu, melainkan sebagai komunitas yang dipanggil untuk bertumbuh dan menghasilkan dampak.
Peringatan yang Serius
Pada bagian penutup, pesan khotbah membawa jemaat pada peringatan yang lebih serius melalui Matius 3:10, yang berbicara mengenai pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik dan konsekuensi yang menyertainya.
Gambaran tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan Tuhan harus dihargai.
Tuhan memang panjang sabar, tetapi kesabaran bukan berarti manusia bebas menunda pertobatan tanpa batas.

Pesannya jelas: jangan hanya menjadi pohon yang terlihat hidup, tetapi jadilah pohon yang menghasilkan buah.
Sebab Tuhan tidak mencari sekadar “daun”—penampilan luar, simbol, atau pengakuan iman—melainkan buah yang nyata dalam kehidupan.
“Tuhan Cari Buah dalam Kehidupan Saudara”
Melalui ibadah ini, jemaat GSJA Duta Kasih diajak melakukan evaluasi terhadap perjalanan iman masing-masing.
Berapa lama seseorang sudah mengikut Tuhan bukanlah pertanyaan terakhir.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah kehidupan kita sudah berubah?
Apakah orang lain merasakan kasih melalui kehidupan kita?
Apakah ada buah Roh dalam karakter kita?
Dan ketika Tuhan melihat kehidupan kita hari ini, apakah Dia menemukan buah?
Pesan akhirnya sederhana namun tajam: gunakan waktu yang Tuhan berikan sebaik-baiknya. Bertobatlah, berubahlah, bertumbuhlah, dan hasilkan buah yang memuliakan nama Tuhan.
Tuhan mencari buah dalam kehidupan kita—bukan sekadar daun.
ACN/RED
