Menhut Raja Antoni ke Kalbar atas Arahan Prabowo: Pastikan Perintah Presiden Berjalan

ACTUALNEWS.ID, Kalimantan Barat — Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni turun langsung ke Kalimantan Barat untuk memastikan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berjalan sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Kunjungan tersebut dilakukan atas permintaan Presiden untuk melihat secara langsung pelaksanaan penanganan karhutla di lapangan, khususnya di wilayah Kalimantan Barat yang masih menghadapi ancaman kebakaran di sejumlah kawasan.

Raja Antoni menyampaikan hal tersebut usai meninjau penanganan karhutla di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (24/8/2026).

“Saya hadir di Kalimantan Barat hari ini diminta oleh Pak Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan apa yang menjadi perintah beliau berjalan dengan baik. Apa yang menjadi instruksi beliau diimplementasikan oleh teman-teman terutama yang ada di Provinsi Kalimantan Barat,” ujar Raja Antoni.

Dalam kunjungan tersebut, Menhut bersama Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dan jajaran terkait mengecek secara langsung kondisi karhutla serta langkah penanganannya.

Pemantauan melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, Manggala Agni Kementerian Kehutanan dan sejumlah unsur lainnya.

Hotspot Kalbar Turun Menjadi 28 Titik

Raja Antoni menyebut kondisi titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat sangat dinamis. Berdasarkan data hingga 23 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB, jumlah hotspot di Kalbar tercatat turun menjadi 28 titik.

Menurutnya, penurunan tersebut tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak dalam melakukan pengendalian karhutla, baik melalui penanganan di darat maupun dukungan operasi dari udara.

“Alhamdulillah, berkat kerja sama semua pihak, TNI, Polri, di darat maupun di udara, termasuk teman-teman Manggala Agni Kementerian Kehutanan yang berjuang tanpa lelah bersama-sama, akhirnya pada hari ini, sekali lagi per malam kemarin, angka hotspot di Kalimantan Barat sisa 28 saja,” kata Raja Antoni.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penurunan jumlah hotspot belum berarti kondisi karhutla di Kalimantan Barat sepenuhnya aman.

Menurutnya, data hotspot harus tetap dipantau karena kondisi kebakaran hutan dan lahan sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Api Padam, Asap Gambut Masih Terlihat

Saat meninjau salah satu lokasi karhutla di Rasau Jaya Tiga, Kabupaten Kubu Raya, Raja Antoni menemukan kondisi api yang sudah tidak terlihat, namun asap masih keluar dari kawasan gambut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses penanganan belum selesai. Pendinginan dan pemadaman lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan bara api yang berada di bawah permukaan tanah benar-benar padam.

“Angka hotspot ini tidak selalu beriringan dengan kabut asap. Saya tadi turun di salah satu titik di Kubu Raya, di Rasau Jaya Tiga ya, api sudah tidak ada, tapi asap dari gambut, tanah gambut itu masih sangat terlihat. Oleh karena itu, perlu pendinginan, pemadaman lebih lanjut,” jelasnya.

Raja Antoni menjelaskan bahwa karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan biasa. Api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah sehingga meskipun api di permukaan telah padam, bara masih berpotensi menyala kembali.

“Karena pada dasarnya sekali lagi gambut ini memang paling sulit dipadamkan. Apinya ada di bawah, dan produksi asapnya, CO2-nya sangat luar biasa. Oleh karena itu memang tidak gampang untuk memadamkan api di gambut ini,” ujarnya.

Pemerintah bersama seluruh unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, TNI, Polri, BNPB, BMKG, Manggala Agni serta unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan karhutla di Kalimantan Barat.

Sumber: Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta
Reporter: Edo Lembang

ACN/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles