ACTUALNEWS.id, JAKARTA UTARA — Nuansa religius berpadu dengan kekayaan budaya Nusantara mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Musholla Al-Ikhlas, Jalan Inspeksi Kali Duri/Air Baja, RT 006/RW 016, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (5/9/2026).

Sebanyak 30 Bunga Male yang dihias dengan telur warna-warni, makanan hingga uang kertas menjadi salah satu daya tarik dalam peringatan Maulid tersebut. Tradisi yang dibawa masyarakat perantauan itu tidak sekadar memperindah lokasi acara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, sedekah dan upaya menjaga warisan budaya di tanah rantau.
Peringatan Maulid menghadirkan Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari sebagai penceramah dan mendapat dukungan dari Ketua Umum Garda Bintang Timur (GBT), Daenk Jamal.

Daenk Jamal mengapresiasi pengurus Musholla Al-Ikhlas dan masyarakat yang bergotong royong menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi harus menjadi momentum mengimplementasikan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat.
“Bukan hanya memperingati, tetapi bagaimana kita meningkatkan keteladanan beliau dalam persatuan, persaudaraan, NKRI, dan silaturahmi. Kita harus menjaga ukhuwah dan kebersamaan dengan seluruh etnis dan agama,” ujar Daenk Jamal.
Menurutnya, masyarakat Pejagalan yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan daerah merupakan gambaran keberagaman Indonesia. Perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kehidupan sosial yang harmonis.
30 Bunga Male Semarakkan Maulid
Salah satu keunikan dalam peringatan Maulid Nabi di Musholla Al-Ikhlas adalah hadirnya 30 Bunga Male yang dibuat secara gotong royong oleh masyarakat.
Bunga Male dibuat menggunakan rangkaian batang pisang atau bilah bambu yang dibentuk dan dihias menyerupai bunga berukuran besar. Pada rangkaian tersebut digantungkan telur-telur hias berwarna-warni, makanan, termasuk ketan, serta uang kertas sebagai bagian dari sedekah dan simbol berbagi keberkahan.
Deretan Bunga Male dengan aneka hiasan tersebut membuat suasana Maulid semakin semarak. Di balik keindahannya, terdapat semangat warga untuk mempertahankan tradisi leluhur sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda di tengah kehidupan masyarakat Jakarta yang majemuk.
Bagi warga perantauan, tradisi tersebut menjadi penghubung antara kampung halaman dengan kehidupan mereka di tanah rantau.
Daenk Jamal mengatakan, mempertahankan tradisi daerah yang mengandung nilai-nilai positif merupakan salah satu bentuk kecintaan terhadap budaya bangsa.
“Ini menjadi keunikan tersendiri karena kita mengadopsi budaya Mandar dari Sulawesi Barat. Para perantau membawa tradisi dari kampung halaman dan kemudian melaksanakannya di tanah rantau. Ini salah satu cara mencintai adat dan budaya sekaligus melestarikannya,” kata Daenk Jamal.
Menurutnya, masyarakat perantauan tidak harus kehilangan identitas budaya ketika tinggal di daerah lain. Sebaliknya, tradisi dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas sepanjang membawa pesan positif, persaudaraan dan kebersamaan.
Keberagaman budaya, lanjutnya, bukan penghalang persatuan, melainkan kekayaan bangsa yang dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.
Dibuat Gotong Royong Selama Sepekan
Semaraknya kegiatan tidak terlepas dari kerja bersama masyarakat. Berbagai perlengkapan dan ornamen Maulid, termasuk Bunga Male, dipersiapkan warga secara gotong royong selama kurang lebih satu minggu.
Jamaludin, salah seorang warga, mengatakan pengerjaan dilakukan menyesuaikan waktu luang masyarakat karena banyak warga merupakan perantauan yang memiliki aktivitas dan pekerjaan masing-masing.
“Pengerjaannya sekitar satu minggu. Karena masyarakat di sini banyak yang perantauan, pengerjaannya dilakukan di waktu luang. Ibu-ibu, bapak-bapak, dan warga semuanya ikut membantu,” ujar Jamaludin.
Menurutnya, kehadiran sekitar 30 Bunga Male dalam kegiatan tersebut sekaligus menggambarkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat.
“Sekitar 30 ini melambangkan gotong royong dan kebersamaan,” katanya.
Keterlibatan warga sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan menjadikan peringatan Maulid bukan hanya milik pengurus musholla, melainkan menjadi kegiatan bersama masyarakat.
Daenk Jamal: Rawat Ukhuwah dan Kebinekaan
Daenk Jamal menilai nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan Maulid harus terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga persaudaraan, kepedulian dan hubungan antarsesama dinilai relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk terus menjaga ukhuwah, memperkuat silaturahmi dan merawat kebinekaan tanpa memandang perbedaan suku, budaya maupun latar belakang.
Penyelenggaraan Maulid tersebut turut melibatkan sejumlah unsur masyarakat, di antaranya Rukman selaku Pengurus Musholla Al-Ikhlas, Moh. Samika atau Daeng Akom selaku Koordinator Keamanan Wilayah sekaligus tokoh masyarakat Penjaringan, Ustaz Mulyadi selaku Ketua Panitia, serta Amsarid dari unsur RT setempat.
Kolaborasi antara pengurus musholla, tokoh masyarakat, warga dan berbagai unsur lingkungan menjadi cerminan semangat kebersamaan yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Al-Ikhlas akhirnya bukan hanya menjadi ruang untuk memperdalam kecintaan kepada Rasulullah SAW. Di tengah semarak 30 Bunga Male, kegiatan tersebut juga menjadi ruang perjumpaan antara agama, budaya dan persaudaraan.
Dari Pejagalan, masyarakat menunjukkan bahwa tradisi kampung halaman tetap dapat tumbuh di tanah rantau tanpa kehilangan semangat kebinekaan. Nilai keagamaan, gotong royong dan budaya berjalan beriringan dalam satu pesan: meneladani Rasulullah SAW, menjaga persatuan, mempererat ukhuwah, serta merawat warisan budaya Nusantara.

Caption foto utama:
Ketua Umum Garda Bintang Timur Daenk Jamal bersama pengurus, tokoh masyarakat dan warga menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Musholla Al-Ikhlas, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (5/9/2026)

Caption foto Bunga Male:
Sebanyak 30 Bunga Male berhias telur warna-warni, makanan dan uang kertas menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Al-Ikhlas. Tradisi tersebut menjadi simbol gotong royong, sedekah dan upaya masyarakat perantauan melestarikan budaya leluhur di Jakarta
ACN/RED
