ACTUALNEWS.ID, JAKARTA – Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia yang diperingati setiap 1 Agustus menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kanker paru yang masih menjadi salah satu persoalan kesehatan utama di Indonesia.
Momentum tersebut dimanfaatkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dengan menggelar webinar yang membahas berbagai tantangan dalam pencegahan, deteksi dini, diagnosis, hingga penanganan kanker paru di Indonesia.
Webinar tersebut dimoderatori oleh Dr. Ungky Agus Setyawan, Sp.P(K). Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Umum PDPI, DR. Dr. Arif Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS, serta pemaparan mengenai Hari Kanker Paru Sedunia oleh Dr. Erlang Samoedro, Sp.P(K), FISR.
Dalam paparannya, dr. Erlang menegaskan bahwa beban kanker paru masih tinggi, baik dari sisi angka kejadian dan kematian maupun morbiditas yang berdampak terhadap kualitas hidup pasien serta keluarganya.
Menurutnya, tantangan penanganan kanker paru semakin kompleks karena penyakit tersebut kerap berkembang tanpa menunjukkan gejala spesifik pada tahap awal. Akibatnya, banyak pasien baru mendapatkan diagnosis ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut dan membutuhkan penanganan yang lebih kompleks.
“Tantangan tersebut semakin kompleks karena kanker paru sering berkembang tanpa gejala spesifik pada fase awal, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit telah berada pada stage lanjut dan memerlukan tata laksana yang lebih kompleks,” ujar dr. Erlang.
Ia menjelaskan, tema global Hari Kanker Paru Sedunia tahun ini, “Together Through Lung Cancer” atau “Bersama Melewati Kanker Paru”, menjadi pengingat bahwa penanganan kanker paru membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Rokok Masih Menjadi Faktor Risiko Utama
Dr. Erlang menyebut salah satu persoalan terbesar dalam pengendalian kanker paru adalah faktor risiko yang masih sulit dikendalikan, terutama konsumsi rokok dan paparan asap rokok.
Di sisi lain, program skrining kanker paru bagi kelompok berisiko tinggi belum berjalan secara luas dan terstruktur. Akses masyarakat terhadap pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit sejak dini juga masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah.
“Akibatnya, kesempatan menemukan kanker paru pada stage awal, ketika terapi dengan tujuan kuratif masih lebih memungkinkan, belum dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Karena itu, menurut dr. Erlang, penguatan upaya pencegahan, pengendalian tembakau, edukasi masyarakat, serta pengembangan skrining berbasis risiko perlu menjadi bagian penting dalam strategi nasional pengendalian kanker paru.
Kemajuan Teknologi Pengobatan Terus Berkembang
Di tengah berbagai tantangan tersebut, perkembangan ilmu kedokteran telah memberikan lebih banyak pilihan dalam penanganan kanker paru.
Kemajuan di bidang pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, hingga pemeriksaan biomarker molekular telah memperluas pilihan terapi bagi pasien.
Namun, tingginya jumlah pasien yang datang dalam kondisi stadium lanjut membuat tujuan terapi pada banyak kasus masih berfokus pada pengendalian penyakit, memperpanjang kelangsungan hidup, mengurangi gejala, serta mempertahankan kualitas hidup pasien.
Tantangan lain yang masih perlu mendapat perhatian adalah belum meratanya fasilitas diagnostik dan terapi di berbagai wilayah Indonesia. Hal tersebut mencakup ketersediaan pemeriksaan molekular, radioterapi, layanan intervensi, serta akses terhadap obat kanker paru yang efektif dan terjangkau.
“Together Through Lung Cancer” Tegaskan Pentingnya Kolaborasi
Indonesia, kata dr. Erlang, sebenarnya memiliki modal penting berupa sumber daya manusia bidang kesehatan yang terus berkembang.
Dokter spesialis paru telah tersebar di berbagai daerah. Pengembangan kompetensi melalui fellowship serta semakin banyaknya dokter konsultan turut memperkuat pelayanan kanker paru secara multidisiplin.
“Semangat ‘Together Through Lung Cancer’ menegaskan bahwa perbaikan luaran kanker paru membutuhkan kolaborasi antara pasien, keluarga, tenaga kesehatan, rumah sakit, pemerintah, organisasi profesi, komunitas, industri, dan masyarakat,” tegas dr. Erlang.
Ia menambahkan, melalui kolaborasi yang kuat, upaya pencegahan dapat diperkuat, skrining dan deteksi dini diperluas, serta akses masyarakat terhadap diagnosis dan terapi modern dapat ditingkatkan.
Dengan demikian, pelayanan kanker paru di Indonesia diharapkan semakin merata, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan serta kualitas hidup pasien.
Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia pada akhirnya bukan sekadar momentum kampanye kesehatan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa menghadapi kanker paru membutuhkan kepedulian dan kerja bersama. Semangat “Together Through Lung Cancer” diharapkan dapat mendorong seluruh pihak untuk bersama-sama menghadapi tantangan kanker paru demi kualitas hidup pasien yang lebih baik.
Kontributor: Amhar Batu AttoZ
ACN/RED
