ACTUALNEWS.ID, Pasuruan – Gelombang kesadaran baru terhadap warisan budaya Nusantara kembali mengemuka. Berawal dari sebuah unggahan di grup WhatsApp Budayantara TV oleh Masdjo Arifin, perhatian publik tertuju pada sosok spiritual yang kian diperbincangkan: Syekh Raden Muhammad, ulama dan penjaga tradisi yang dimakamkan di Ciganjur.
Kunjungan silaturahmi tersebut bukan sekadar ziarah, tetapi menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini antara tutur lisan sebagai warisan tradisional dengan apa yang kini disebut sebagai “tool lisan”, yakni pengolahan kembali narasi budaya dalam konteks modern dan digital.
Lahirnya Gerakan Pelestarian
Dari Ciganjur, lahirlah Ciganjur Heritage Foundation yang didirikan langsung oleh Masdjo Arifin. Yayasan ini resmi berdiri pada 24 Juni 2023, bertepatan dengan haul akbar Mbah Lontar.
Tujuan utamanya jelas: menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali warisan leluhur Nusantara, mulai dari tradisi, nilai spiritual, hingga praktik budaya yang nyaris terlupakan. Kegiatan awalnya meliputi penanaman pohon kebangsaan dan santunan anak yatim simbol kuat antara pelestarian alam dan nilai kemanusiaan.
Mbah Lontar dan Warisan Ilmu
Nama “Mbah Lontar” bukan sekadar julukan. Ia merujuk pada kedalaman ilmu sang tokoh dalam memahami dan menuliskan pengetahuan melalui media tradisional berupa Borassus flabellifer daun siwalan yang sejak lama menjadi lembaran sejarah di wilayah seperti Bali dan Lombok.
Dalam konteks ini, lontar bukan hanya benda, tetapi simbol literasi peradaban lama tempat di mana ilmu, doa, dan sejarah disimpan dan diwariskan.
Dari Tutur Lisan ke Heritage
Sastra lisan atau tutur menjadi fondasi utama dalam perjalanan budaya Nusantara. Cerita rakyat, mantra, hingga legenda bukan sekadar hiburan, melainkan medium pendidikan, spiritualitas, dan identitas kolektif.
Kini, konsep heritage warisan budaya lintas generasi menguat kembali. Tradisi lisan yang dahulu hanya dituturkan, kini mulai ditransformasikan menjadi dokumentasi, digitalisasi, bahkan alat pembelajaran modern.
Jejak Sejarah: Ciganjur dan Cirebon
Secara historis, Ciganjur memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Cirebon. Mbah Lontar disebut memiliki hubungan spiritual dan genealogis dengan para wali di wilayah tersebut, memperkuat posisi Ciganjur sebagai simpul sejarah Islam di Nusantara.
Benang Merah dengan I Gusti Untung Suropati
Menariknya, narasi ini juga bersinggungan dengan sosok pahlawan nasional, I Gusti Untung Suropati. Tokoh asal Pasuruan ini dikenal sebagai pejuang yang melawan kolonial Belanda.
Dalam catatan sejarah lisan, Untung Suropati disebut memiliki hubungan dengan lingkungan Cirebon, bahkan mendapatkan gelar “Surapati” setelah interaksi dengan lingkaran kesultanan. Meski detailnya masih menjadi perdebatan akademik, benang merah ini menunjukkan bagaimana jaringan budaya dan kekuasaan di masa lalu saling terhubung.
Dua Tokoh, Satu Zaman
Baik Mbah Lontar maupun Untung Suropati hidup di rentang abad ke-17 masa penuh gejolak, baik secara spiritual maupun politik. Yang satu menanamkan nilai melalui ilmu dan dakwah, yang lain melalui perlawanan fisik terhadap penjajahan.
Keduanya menjadi representasi dua wajah perjuangan Nusantara: pena dan pedang, tutur dan tindakan.
Menjaga Kepekaan Sejarah
Di tengah arus modernisasi, tantangan terbesar adalah menjaga kepekaan terhadap data, fakta, dan makna sejarah. Dibutuhkan pendekatan “asah, asuh, asih”ketajaman berpikir, kepedulian, dan kebijaksanaan agar warisan budaya tidak sekadar menjadi cerita, tetapi tetap hidup dalam praktik.
Dari Ciganjur hingga Pasuruan, dari lontar hingga platform digital, perjalanan budaya Nusantara terus berlanjut. Transformasi dari tutur lisan ke “tool lisan” bukanlah penggantian, melainkan penguatan agar suara leluhur tetap terdengar di masa depan.Selasa,(24/3/2026).
Penulis: Mbah Openi
Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih
ACN/RED
