ACTUALNEWS.id, Jakarta – Hamparan sawah yang luas di sebuah desa terpencil di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menjadi saksi lahirnya mimpi besar seorang anak petani yang menolak tunduk pada keterbatasan. Sosok itu adalah Muhamad Akbar Pamonroi, pemuda yang percaya bahwa asal-usul bukanlah penghalang untuk meraih masa depan.
Melalui tulisan berjudul “Catatan Si Anak Petani”, Akbar menghadirkan kisah perjuangan yang sarat makna. Ia menggambarkan bagaimana kehidupan sederhana di tengah keluarga petani justru menjadi sekolah pertama yang mengajarkannya arti kerja keras, kejujuran, kesabaran, dan keteguhan hati.
“Aku anak petani, tapi mimpiku tak berhenti di sawah. Aku bermimpi setinggi langit, bekerja sekeras tanah, dan berserah sekuat doa,” tulis Akbar, Rabu (5/8/2026).
Kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan perjalanan hidup yang ditempa oleh kerasnya kehidupan pedesaan. Sejak kecil, ia menyaksikan kedua orang tuanya mengolah sawah dari pagi hingga senja demi menghidupi keluarga. Dari pengalaman itulah tumbuh keyakinan bahwa keberhasilan selalu lahir dari perjuangan yang panjang.
“Saya lahir sebagai anak petani dari desa terpencil di Kabupaten Bone. Saya bangga dengan latar belakang itu karena dari sanalah saya belajar tentang kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan pentingnya tidak pernah menyerah. Mimpi setiap anak tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan, tetapi oleh tekad dan usahanya untuk terus maju,” ujar Muhamad Akbar Pamonroi.
Bagi Akbar, status sebagai anak petani bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Sebaliknya, hal itu menjadi identitas yang membentuk karakter kuat, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan keluarga petani, seperti disiplin, ketekunan, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah, merupakan bekal penting untuk meraih pendidikan, membangun karier, hingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui “Catatan Si Anak Petani”, Akbar juga menyampaikan pesan kepada generasi muda, khususnya mereka yang tumbuh di pelosok desa, agar tidak pernah takut bermimpi besar. Ia meyakini bahwa masa depan tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi maupun letak geografis, melainkan oleh keberanian untuk terus belajar, bekerja keras, dan tidak menyerah pada keadaan.
Lebih dari sekadar kisah pribadi, tulisan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para petani Indonesia yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Akbar berharap semakin banyak anak-anak petani yang mampu menorehkan prestasi, tanpa melupakan akar kehidupan dan pengorbanan orang tua yang telah membesarkan mereka.
Kisah Muhamad Akbar Pamonroi menjadi bukti bahwa mimpi dapat tumbuh dari mana saja, bahkan dari hamparan sawah yang sederhana. Sebagaimana benih yang membutuhkan kesabaran sebelum menghasilkan panen, setiap cita-cita pun memerlukan ketekunan, pengorbanan, dan doa sebelum akhirnya berbuah keberhasilan.
ACN/(Djo)/RED
