ACTUALNEWS.ID JAKARTA — Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kosgoro 1957, Agung Laksono, berharap pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) V Kosgoro 1957 dapat berlangsung tertib, damai, dan penuh semangat persatuan. Hal itu disampaikannya usai menghadiri Mubes V Kosgoro 1957 di Hotel Merlynn Park, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dalam keterangannya kepada awak media, Agung Laksono menilai sosok calon ketua umum yang akan datang harus mampu membawa organisasi semakin solid dan memberikan ruang keterwakilan perempuan di tubuh organisasi.
Musyawarah Besar (Mubes) V PPK Kosgoro 1957 resmi menetapkan Sari Yuliati sebagai Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 periode 2026–2031
“Harapannya di Mubes Kosgoro yang kelima ini berjalan dengan tertib dan damai, itu saja. Selain itu, Sari Yuliati sebagai Ketua Umum terpilih PPK Kosgoro 1957 yang juga menjabat Bendahara Umum Golkar, sehingga bisa dibilang dari jabatannya cukup mapan untuk menjadi ketua umum yang akan datang. Harapannya keterwakilan perempuan juga terpenuhi,” ujar Agung Laksono.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya siap apabila organisasi dipimpin oleh seorang perempuan.
“Siap dong dipimpin oleh seorang wanita untuk seluruh anggota keluarga,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Agung Laksono yang kini menjabat Ketua DPP Kosgoro menyebut estafet kepemimpinan organisasi juga dilanjutkan putranya, Dave Laksono.
Lebih lanjut, Agung Laksono berharap dinamika dalam Mubes tetap dijalankan dengan semangat demokrasi yang sehat tanpa memunculkan konflik internal.
“Saya berharap Mubes ke-5 ini yang tadi sudah dibuka semangat untuk bertanding. Bertanding itu harus ditafsirkan dengan cara yang baik, tidak menimbulkan perpecahan,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh pihak perlu mencari jalan terbaik agar proses pemilihan ketua umum dapat berlangsung secara musyawarah tanpa harus memunculkan polarisasi di internal organisasi.
“Kita cari cara yang bisa mempertemukan perbedaan-perbedaan ini menjadi satu. Itu memang diperlukan kerja dari para senior dan juga dukungan semuanya, tim sukses dan sebagainya,” katanya.
Agung juga menegaskan bahwa perbedaan latar belakang, termasuk gender maupun status sosial ekonomi, tidak boleh menjadi hambatan dalam menentukan pemimpin organisasi.
“Kita tidak bicara soal gender atau latar belakang ekonomi sosial. Yang utama adalah bagaimana bisa memberikan pengabdian kepada masyarakat sesuai kebutuhan keluarga dan masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap dinamika yang terjadi dalam Mubes justru menjadi energi positif bagi organisasi, bukan sebaliknya menonjolkan ego masing-masing pihak.
“Ada suasana dinamika, tetapi dinamika ini jangan kemudian hanya memunculkan ego masing-masing sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat dan informasi kepada publik bisa berjalan baik,” pungkasnya.ACN/Calista/RED
