Menguak Kembali Ajaran Luhur Spiritual Nusantara melalui Sastrajendra Living Academy

0
10

APA ITU SASTRAJENDRA?

ACTUALNEWS.ID JAKARTA – Sastrajendra merupakan ajaran luhur warisan leluhur Nusantara yang memiliki kedalaman filosofi tentang kehidupan, kesadaran diri, dan perjalanan spiritual manusia. Namun, penjelasan mengenai ajaran ini tidak banyak ditemukan secara utuh. Salah satu sebabnya, dalam penuturan tradisi, ajaran tersebut dahulu berkembang secara terbatas di lingkungan keraton dan diwariskan secara turun-temurun.

Istilah Sastrajendra ditemukan dalam khazanah naskah kuno, di antaranya Kakawin Utarakanda, dengan istilah Çastra Kajitendriyan. Jejak pemikirannya juga dapat ditelusuri melalui karya-karya sastra Jawa Kuno dan Jawa Baru, termasuk Kakawin Arjunawijaya karya Mpu Tantular serta Arjuna Wiwaha yang kemudian digubah kembali dalam tradisi kesusastraan Jawa oleh R. Ngabehi Yosodipura II. Kemudian R. Ngabehi Sindusastra menuliskan kembali berjudul Serat Lokapala yang dapat ditemui secara simbolis dalam dunia pewayangan.

Dalam perkembangannya, Sastrajendra melahirkan beragam penafsiran. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penulisan kata Sastrajendra. Kata ini tidak semestinya dipisahkan menjadi Sastra Jendra, karena dalam pemaknaan yang dikembangkan terdapat konsep tembung garba, yakni penggabungan kata yang ditafsirkan berasal dari Sastra Haryo Endra.

Secara filosofis, Sastra dimaknai sebagai tulisan, pengetahuan, atau ilham yang lahir dari penghayatan terhadap alam dan kehidupan. Sementara Endra mengandung simbol kebijaksanaan dan kesadaran kosmis. Dengan demikian, Sastrajendra dimaknai sebagai kawruh luhur yang menuntun manusia memahami kehidupan dan mencapai Kasampurnaning Hurip—kesempurnaan dalam menjalani kehidupan.

Menghidupkan Kembali Spiritualitas Nusantara

Salah satu tokoh yang aktif mengangkat dan mengembangkan kembali pemikiran Sastrajendra adalah Toni Junus Kanjeng Gung, yang juga dikenal dengan gelar Kiageng Nawang Jati anugerah nama dari Nusantara Adhi Kencana Adhi Buana. Kiprahnya dalam pelestarian budaya spiritual Nusantara mendapat sejumlah pengakuan dan penghargaan, di antaranya penghargaan Murthi sebagai Golden Achievement Culture Award. Sebagai pembangkit ajaran Sastrajendra.

Bersama Dr. dr. H. Bambang Dwi Hayunanto, Sp.KK salah satu pendiri RS PBNU, Toni Junus mendirikan Sastrajendra Living Academy (Sastrajendra Kawedar). Wadah ini dibangun sebagai ruang pendidikan dan pengembangan spiritualitas budaya Nusantara, dengan tujuan memperkenalkan nilai-nilai luhur yang dapat membangun karakter, kesadaran, dan mental spiritual masyarakat Indonesia.

Sastrajendra Living Academy tidak sekadar mengangkat kembali warisan masa lalu, tetapi berupaya mengemasnya melalui pemikiran yang aplikatif, sederhana, dan komunikatif dengan bahasa masa kini. Pendekatannya menempatkan spiritualitas sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata sebagai pengetahuan yang bersifat simbolis atau ritualistik.

“Ajaran-ajaran dalam komunitas budaya spiritual harus komunikatif dan bisa diterima oleh generasi muda,” ujar Toni Junus.

Piwulangan Sastrajendra Tingkat I

Pada 1 November 2026, bertempat di Kediaman Syailendra, Villa Casablanca Blok B4/11, Sawangan, Depok Baru, diselenggarakan Piwulangan Sastrajendra Tingkat I.

Dalam kesempatan tersebut, Toni Junus Kanjeng Gung memberikan wedaran mengenai ajaran luhur spiritual Nusantara yang selama ini dikenal sebagai pengetahuan sinengker atau tersimpan dalam tradisi pewarisan tertentu. Ia mengajak peserta melihat kembali kekayaan spiritual Nusantara melalui pendekatan yang lebih terbuka, mendalam, dan kontekstual.

Piwulangan ini menghadirkan sejumlah materi yang tidak banyak dibahas dalam konten spiritual populer di media sosial. Para peserta diperkenalkan pada pemahaman serta praktik samadhi, termasuk Samadhi Asesuci Agni dan Samadhi Genta Pangreksan.

Menurut penuturan Toni Junus, kedua praktik tersebut merupakan bagian dari perjalanan laku dan perenungan spiritual yang ia jalani di sejumlah situs kuno Nusantara, antara lain Gunung Lawu, Kahyangan, dan situs Kiageng Bagus Mangir.

Dalam sesi tersebut, ia juga membagikan teknik samadhi yang selama ini menjadi bagian dari pendalaman spiritual Sastrajendra. Penyampaian materi berlangsung intensif, dengan penekanan pada kesadaran diri, pengendalian batin, dan penghayatan terhadap kehidupan.

Para peserta menyambut piwulangan tersebut dengan antusias. Banyak hal yang sebelumnya hanya dikenal melalui potongan informasi di media sosial memperoleh penjelasan, pelurusan dan perspektif yang lebih mendalam.

Spiritualitas sebagai Jalan Kehidupan

Bagi Toni Junus Kanjeng Gung, Sastrajendra bukan sekadar warisan pengetahuan kuno yang perlu dikenang, melainkan nilai kehidupan yang harus dihayati dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Karena itu, Sastrajendra Living Academy berupaya menghadirkan ajaran tersebut melalui bahasa dan pemikiran modern, tanpa kehilangan akar filosofi Nusantara.

Pada akhir piwulangan, Toni Junus menegaskan bahwa apa yang disampaikan merupakan hasil perenungan, perjalanan laku, serta penghayatan terhadap nilai-nilai Sastrajendra yang diyakininya sebagai tuntunan spiritual. Di usia senjanya, ia memilih untuk terus mengabdikan diri melalui jalan pengabdian dan dharma.

Dua falsafah Jawa menjadi pesan penting yang disampaikannya:

“Hurip Iku Hurup.”

Hidup adalah cahaya. Keberadaan manusia hendaknya memberikan manfaat, menerangi, dan membawa kebaikan bagi lingkungan serta masyarakat sekitarnya.

“Hamemayu Hayuning Bawana.”

Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memperindah kehidupan serta alam semesta yang telah indah.

Pada akhirnya, Sastrajendra mengajak manusia memahami pencerahan (enlightenment) bukan sebagai pencapaian kesaktian atau kebanggaan diri, melainkan sebagai perjalanan menuju kesadaran yang lebih luhur. Dalam pemaknaan spiritual Jawa, perjalanan itu dikenal sebagai Manunggaling Kawula Gusti—keselarasan pengabdian manusia dengan kehendak Sang Pencipta.

Sebuah perjalanan untuk mencapai Kasampurnaning Hurip.

Sastrajendra Living Academy — Spiritualitas adalah Kehidupan, Sastrajendra adalah Jalan Menuju Kemuliaan.ACN/RED