Kader Marhaenis Harus Berada di Banyak Tempat: Menyebarkan Marhaenisme dalam Sistem Politik Multipartai

ACTUALNEWS.ID Jakarta 19/10/2026 – Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, Putra Naibaho melakukan pembukaan Konferensi Daerah II DPD GPM Provinsi D.I Yogyakarta, acara ini menjadi salah satu kegiatan rutin yang di lakukan oleh Gerakan Pemuda Marhaenisme di daerah-daerah dalam menjalankan Roda Organisasi sesuai mekanisme AD/ART Gerakan Pemuda Marhaenis, selain melakukan pembukaan Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Pemuda Marhaenis juga memberikan Pidato Politik dalam pembukaannya, menurut pemikiran Putra Naibaho, kader Marhaenis tidak seharusnya hanya berada di dalam satu tempat atau terpaku pada satu partai politik saja. Kader Marhaenis harus mampu hadir dan berkiprah di berbagai kolam politik, yakni di banyak partai politik, tanpa kehilangan jati diri ideologis dan komitmennya terhadap perjuangan Marhaenisme.

Pemikiran ini berangkat dari kenyataan bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi multipartai, di mana kekuasaan politik, representasi rakyat, serta proses pengambilan kebijakan negara melibatkan berbagai partai dengan latar belakang, kepentingan, dan orientasi politik yang beragam. Dalam sistem seperti ini, perjuangan ideologi tidak cukup hanya dilakukan melalui satu pintu politik. Marhaenisme perlu hidup, berkembang, dan diperjuangkan di berbagai ruang pengambilan keputusan.

Marhaenisme tidak boleh hanya menjadi ideologi yang hidup di dalam organisasi, tetapi harus menjadi nilai yang bekerja di dalam kekuasaan dan kebijakan negara.

Oleh karena itu, kader Marhaenis perlu mengambil peran di berbagai partai politik, lembaga legislatif, pemerintahan, serta ruang-ruang strategis lainnya. Mereka harus hadir sebagai politisi, pemimpin, pembuat kebijakan, akademisi, dan negarawan yang memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi rakyat kecil serta keberpihakan terhadap kepentingan kaum Marhaen.

Tujuannya bukan sekadar memperbanyak kader di berbagai partai, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai Marhaenisme memiliki ruang untuk memengaruhi proses politik dan kebijakan publik. Ketika kader Marhaenis menduduki posisi strategis di berbagai kekuatan politik, mereka dapat memperjuangkan kebijakan yang berorientasi pada keadilan sosial, kemandirian ekonomi, pemerataan pembangunan, perlindungan terhadap kaum kecil, dan pengelolaan sumber daya nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dalam kerangka ini, keberhasilan perjuangan Marhaenisme tidak semata-mata diukur dari besarnya organisasi atau kuatnya satu partai politik, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai Marhaenisme dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat Indonesia.

Namun, berada di banyak tempat bukan berarti Marhaenis kehilangan arah ideologis atau mengorbankan prinsip demi kepentingan politik sesaat. Justru, semakin luas ruang politik yang dimasuki, semakin besar pula tanggung jawab kader untuk menjaga integritas, konsistensi nilai, dan keberpihakannya kepada rakyat. Perbedaan kendaraan politik tidak harus menghapus kesamaan cita-cita perjuangan.

Dengan demikian, kader Marhaenis perlu membangun dua kekuatan sekaligus: kekuatan ideologis sebagai landasan perjuangan dan kekuatan politik sebagai instrumen untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Organisasi ideologis berperan menjaga pemikiran, nilai, kaderisasi, dan arah perjuangan, sedangkan kiprah kader di berbagai partai menjadi salah satu jalan untuk membawa nilai-nilai tersebut ke dalam proses pengambilan keputusan negara.

Pada akhirnya, gagasan ini mengandung pesan bahwa Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai warisan sejarah atau sekadar identitas organisasi. Marhaenisme harus terus hadir dalam dinamika politik Indonesia, melintasi sekat-sekat partai, dan mengambil bagian dalam pembentukan masa depan bangsa.

Sebab, jika cita-cita Marhaenisme adalah mewujudkan masyarakat yang adil, mandiri, dan sejahtera, maka perjuangannya harus berlangsung di seluruh ruang tempat keputusan tentang nasib rakyat ditentukan.

Senada dengan pendapat Putra Naibaho, Totok Sukarnoputra selaku Dewan Penasehat DPP Gerakan Pemuda Marhaenis yang merupakan anak biologis dan ideologis Bung Karno sebagai Bapak Marjaenisme juga menyampaikan, jangan hanya membangun satu tempat dan berharap seluruh kader marharnis berada di dalamnya. Sebarkan kader ke berbagai partai politik, rawat ideologinya, kuatkan integritasnya, dan pastikan di mana pun mereka berada, keberpihakan kepada kaum Marhaen tetap menjadi kompas perjuangan.ACN/RBT/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles