Peluncuran Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global

ACTUALNEWS.ID Jakarta – Pada 14 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Sejarah, seri buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global telah diperkenalkan kepada publik melalui peluncuran awal (soft launching). Momentum tersebut merupakan awal roses pengenalan dan penyempurnaan, bukan akhir dari pekerjaan penerbitan. Pasca peluncuran awal, tim menyempurnakan aspek teknis yang diperlukan agar keseluruhan seri hadir secara utuh, konsisten, mudah digunakan, dan layak secara visual. Penyempurnaan terutama diarahkan pada kelengkapan unsur buku serta desain buku yang mampu menopang keluasan isi tanpa mengurangi kenyamanan membaca.

Peluncuran utama ini sekaligus menjadi undangan kepada masyarakat untuk membaca sejarah Indonesia secara lebih luas, kritis, inklusif, dan reflektif yang bukan sebagai hafalan masa lalu, melainkan sebagai sumber pembelajaran untuk merawat persatuan, memperkuat demokrasi, dan menentukan arah masa depan bangsa sesuai dengan jati dirinya.

Buku ini terdiri dari sepuluh jilid utama yang secara substansial disusun secara kronologis-tematik untuk memperlihatkan kesinambungan, perubahan, dan perdebatan dalam perjalanan Indonesia. Selain itu, terdapat satu jilid faktaneka yang melengkapi seri sebagai pendamping untuk memudahkan pembaca menelusuri ragam fakta dan informasi penting. Ditulis oleh 123 pakar terdiri atas penulis, editor jilid, dan editor umum. Para cendekiawan ini berasal dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga non-perguruan tinggi berasal dari berbagai macam latar belakang keahlian seperti sejarawan, arkeolog, filolog, epigraf, peneliti dari berbagai wilayah Indonesia. Adapun Tim Editor Umum terdiri dari Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum. (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. (Universitas Diponegoro), serta Prof. Dr. Jajat Burhanudin, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Sebagai bagian dari komitmen untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah, buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global disediakan dalam format digital yang dapat diakses secara daring. Dengan demikian, buku ini diharapkan dapat menjangkau pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan masyarakat luas di berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penyediaan versi digital menjadi langkah strategis untuk memastikan ketersediaan pemenuhan kebutuhan akses publik terhadap karya sejarah Indonesia ini.

Jilid I- Akar Peradaban Nusantara

Editor Jilid

  1. Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Si. (Universitas Indonesia)
  2. Prof. Dr. Akin Duli, M.A. (Universitas Hasanuddin)

Jauh sebelum kedatangan pengaruh India, Tiongkok, atau Eropa, wilayah kepulauan Indonesia telah menjadi panggung peradaban yang canggih dan mandiri. Dengan bukti-bukti mulai dari lukisan cadas di Sulawesi yang terbukti sebagai yang tertua di dunia bahkan mendahului seni lukis Eropa hingga teknologi navigasi samudra yang telah dikuasai leluhur kita saat bangsa lain masih takut pada laut. Melalui perpaduan data mutakhir dari arkeologi, genetika, dan paleoantropologi, jilid ini menarasikan ulang Nusantara sebagai “laboratorium evolusi manusia yang dinamis, tempat hidup berdampingannya berbagai spesies manusia purba seperti Homo erectus hingga Homo floresiensis. Jilid ini menawarkan perspektif baru yang membanggakan, bahwa leluhur Nusantara adalah agen aktif pembentuk sejarah dunia, dengan warisan nilai maritim dan ekologis yang masih sangat relevan hingga hari ini.

Jilid II- Nusantara dalam Jaringan Global: Perjumpaan Budaya Dengan India, Tiongkok, dan Persia

  1. Dr. Ninie Susanti Tejowasono, M.Hum. (Universitas Indonesia)

Editor Jilid

  1. Dr. Wanny Rahardjo Wahyudi, M.Hum. (Universitas Indonesia)

Jilid ini mendekonstruksi narasi sejarah tradisional yang terbelenggu oleh paradigma difusionis seperti “Indianisasi,” yang secara implisit mereduksi agensi lokal Nusantara sebagai penerima pasif. Buku ini secara tegas mem membuktikan sebaliknya bahwa sejak awal milenium pertama, Nusantara adalah entrepôt kosmopolitan dan simpul maritim yang aktif, tempat pertukaran ide, teknologi, dan ritus global. Anda akan disuguhkan temuan-temuan baru yang menunjukkan lokal genius Nusantara berperan sebagai mesin pengayaan budaya. Unsur asing tidak ditiru, melainkan diseleksi, disintesis, dan distandardisasi menjadi bentuk-bentuk khas lokal. Inilah kisah tentang bagaimana peradaban agung seperti Borobudur memadukan kosmologi Buddha dengan lanskap agraris Jawa, dan Sriwijaya menjelma menjadi komunitas belajar dan pusat niaga yang menautkan Samudra Hindia.

Lebih dari sekadar menyoroti monumen dan istana, buku ini mengalihkan fokus analisis dari pusat kekuasaan menuju ruang-ruang produksi simbolik yang dinamis dari pelabuhan, muara, daerah aliran sungai, hingga kehidupan keseharian. Temukan aktor-aktor kunci yang selama ini terabaikan seperti nakhoda, saudagar, rohaniawan, perajin, hingga peran penting perempuan yang membentuk identitas budaya dari bawah melalui praktik hidup sehari-hari. Melalui jilid ini akan menyusuri evolusi politik dari kerajaan awal hingga kejayaan Majapahit yang menggabungkan basis agraris dan maritim, memahami sistem hukum Kutaramanawa Dharmasastra, dan menyaksikan transisi kreatif menuju tatanan baru yang melahirkan lembaga pesantren.

Jilid III- Nusantara Dalam Jaringan Global: Timur Tengah

Editor Jilid

  1. Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum. (UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta) 2. Prof. Usep Abdul Matin, M.A., M.A., Ph.D. (UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta)

Menyingkap tabir sejarah Islamisasi Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-17 Masehi, menegaskan posisi strategis kepulauan ini sebagai simpul vital jaringan maritim global yang terhubung erat dengan peradaban Timur Tengah. Berlandaskan sintesis temuan arkeologis mutakhir di Situs Bongal hingga kajian manuskrip kuno, narasi ini membedah evolusi komunitas pedagang Muslim di bandar kosmopolitan menjadi entitas politik kesultanan yang berdaulat seiring meredupnya hegemoni Sriwijaya dan Majapahit. Integrasi ekonomi di Samudra Hindia mendorong para elite lokal mengadopsi Islam, tidak semata sebagai transisi teologis, melainkan sebagai strategi politik canggih untuk legitimasi kekuasaan, diplomasi internasional, dan unifikasi wilayah yang melahirkan institusi negara yang kokoh dan berwawasan luas. Jilid ini secara mendalam juga menyoroti proses akulturasi kreatif yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal, tercermin indah dalam arsitektur masjid, seni nisan, hingga tradisi literasi beraksara Jawi dan Pegon yang memperkaya khazanah intelektual bangsa. Dari strategi kebudayaan Wali Songo di Jawa hingga jaringan ulama di Sumatera, terlukis jelas wajah Islam Nusantara yang adaptif, toleran, dan berkebudayaan tinggi dalam merespons tantangan zaman.

Jilid IV- Interaksi Awal Dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi

Editor Jilid

  1. Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum. (Universitas Indonesia)
  2. Dr. Phil. Zacky Khairul Umam (Universitas Islam Internasional Indonesia)

Jilid ini menyingkap babak penting dalam sejarah Nusantara, yakni interaksi dinamis antara kekuatan lokal dan bangsa-bangsa Barat pada periode modern awal, abad ke-16 hingga ke-18. Didorong oleh pencarian komoditas rempah-rempah unggulan seperti cengkih, pala, dan lada, bangsa Eropa dimulai dari Portugis, kemudian disusul kongsi dagang raksasa VOC memasuki kepulauan ini. Berbekal hak oktroi yang istimewa, VOC berupaya membangun hegemoni dan monopoli perdagangan yang tak terhindarkan. Buku ini tidak hanya merekam jejak kekuasaan dagang yang bertahan lama tersebut dan pembentukan Batavia sebagai simpul dagang Asia, tetapi juga menggarisbawahi pengaruh Islam yang kian menguat melalui jaringan intelektual dan transmisi ilmu pengetahuan di tengah arus globalisasi. Interaksi yang kompleks ini jauh dari sekadar kisah penaklukan, ia adalah narasi tentang Kompetisi dan Aliansi. Kekuatan-kekuatan besar Nusantara termasuk Aceh, Mataram, dan Gowa-Tallo melancarkan resistensi terhadap upaya monopoli VOC, yang berujung pada konflik dan peperangan terbuka. Di sisi lain, kepentingan politik dan ekonomi turut menghasilkan aliansi

yang tak terhindarkan, baik di antara kekuatan lokal maupun antara Barat dan Nusantara. Hasil dari perjumpaan dan pertarungan ini adalah lahirnya masyarakat kosmopolitan yang hibrid di kota-kota pelabuhan, membentuk budaya baru seperti Indisch, dan menjadikan Bahasa Melayu sebagai lingua franca pemersatu yang menjadi cikal bakal bahasa nasional.

Jilid V Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial Editor Jilid 1. Prof. Dr. Sarkawi B. Husain, M.Hum. (Universitas Airlangga)

  1. Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A. (Universitas Gadjah Mada)

Jilid ini menelusuri periode krusial abad ke-18 hingga awal abad ke-20, saat Nusantara bertransformasi dari wilayah kekuasaan kongsi dagang VOC yang kolaps menjadi sebuah entitas politik baru yang disebut Negara Kolonial. Setelah mengambil alih kendali, Belanda segera memulai rasionalisasi dan sentralisasi administrasi, serta ekspansi teritorial yang masif untuk mewujudkan negara kolonial modern. Berbagai institusi modern mulai dari sistem hukum, birokrasi, hingga sekolah ditanamkan secara sistematis, yang berfungsi sebagai alat kontrol baru. Di sisi ekonomi, diterapkan dua sistem eksploitatif yang mengubah wajah masyarakat: Tanam Paksa dan Ekonomi Liberal. Kedua sistem ini tidak hanya menguras sumber daya, tetapi juga menciptakan struktur sosial baru yang berbasis segregasi rasial, menempatkan penduduk pribumi di bawah lapisan sosial terendah. Pembentukan negara kolonial yang ambisius ini menuntut pengorbanan besar dari masyarakat Indonesia, baik secara material maupun spiritual. Namun, buku ini menyoroti bahwa pembentukan negara kolonial bukanlah proses searah tanpa perlawanan. Di berbagai wilayah, muncul resistensi keras, mulai dari perlawanan bersenjata dalam skala besar seperti Perang Diponegoro dan Perang Aceh, hingga perlawanan non-militer yang elegan melalui gerakan sosial, media, dan karya sastra. Pendidikan kolonial, yang dimaksudkan untuk melayani kebutuhan birokrasi, secara tak disengaja melahirkan elit pribumi terpelajar yang menyebarkan gagasan kebangsaan di ruang publik melalui pers. Inilah yang disebut “perubahan yang tak disengaja”, di mana kebijakan kontrol kolonial justru menjadi benih bagi kesadaran nasional. Anda akan melihat bagaimana masyarakat Indonesia menemukan agensi mereka sendiri di bawah bayang-bayang penjajahan yang terstruktur! Warisan periode penuh gejolak inilah yang kemudian meletakkan fondasi bagi Pergerakan Nasional.ACN/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles