Oleh Geofakta Razali,
Akademisi dan Praktisi Psikologi Komunikasi
ACTUALNEWS.ID, Jakarta —Pernahkah anda melakukan sesuatu, atau datang ke suatu acara, atau mengunjungi sebuah tempat dan kemudian anda bertanya mengapa anda bisa melakukannya? Bagaimana anda bisa sampai di sana? Mungkin saja ini adalah umpan sosial media sebab anda sebelumnya sedang terpikat pada gambar atau video orang-orang yang sedang bersenang-senang pada sebuah kegiatan atau tempat tersebut.
Namun, setelah anda melakukannya, anda tidak merasa memiliki makna berarti sebab anda melakukannya hanya karena terus menerus mendengar orang membicarakannya, menguploadnya di media sosial, dan anda merasa seperti kehilangan sesuatu jika anda tidak hadir atau tidak melakukannya. Ya, beginilah cara kerja FOMO (Fear of Missing Out). Era digital membawa pikiran kita dirancang untuk membuat kita merasa kehilangan kehidupan terbaik kita.
FOMO era digital ini telah diperburuk oleh media sosial, yang membuat kita berpikir bahwa semua orang menjalani kehidupan luar biasa dibandingkan dengan kita sendiri. Sudah banyak riset mengatakan bahwa kita menghabiskan waktu empat sampai enam jam sehari untuk melihat media sosial, atau bahkan menyegarkan akun anda sendiri dengan meng-upload story.
Tidak ada yang salah, namun apabila kita melakukannya demi niat merasa update dan menunjukkan kebahagiaan, ini akan membuat anda sedikit gila untuk selalu mengikutinya. Akhirnya, kita hanya membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang penuh dengan tekanan, paksaan, dan sedikit manipulatif. Begitu tidak menyenangkan. Ingin merasakan kegembiraannya? Inilah yang perlu Anda lakukan.
JOMO & Stoikisme
Sebaliknya, JOMO (Joy Of Missing Out) mendorong kita untuk menemukan kesenangan dalam berkomunikasi pada diri sendiri, dan memilih apa yang kita inginkan. Jomo adalah perasaan puas, santai, dan bisa menikmati situasi yang dialami saat ini. Lebih memahami diri kita sendiri, kebutuhan kita dan apa yang membuat kita tergerak. Dengan cara ini, Anda bebas memilih untuk hanya melakukan hal-hal yang membuat Anda bahagia dan tidak merasa kehilangan apa pun.
JOMO membawa anda pada satu titik tidak perlu pamer, dan tidak perlu mendapatkan pengakuan atau apresiasi dari lingkungan. Anda benar-benar menikmati aktivitas dengan merasa “hilang”. Dalam pandangan lain, hal serupa juga dapat kita temui pada aliran filsafat stoikisme. Bagi saya sendiri, hal ini menjadi sebuah terapi kebahagiaan.
Menurut saya, salah satu aliran ini tidak mengutamakan sebuah “ide yang idealis” atau gaya-gaya filsafat pada umumnya. Stokisme menawarkan terapi untuk jiwa kita dari berbagai emosi negatif (rasa iri, marah, pahit, takut) sehingga kecenderunan tersebut sering membuat kita sulit membedakan emosi. Salah satu metodenya dalam stoikisme adalah ataraxia (absence of troubles).
Kedua hal diatas membuat kita tetap tenang walaupun sedang merasa di atas, ataupun di bawah. Ternyata, terobsesi dengan trend tidak selalu baik. Ada beberapa langkah yang baik bagi para candu media sosial dalam memberikan penghargaan dan komunikasi pada diri sendiri. Pertama, digital detox. Mengurangi akses terhadap potensi negatif postingan orang-orang atau konten yang memancing emosi negatif dengan metode hide, atau unfollow merupakan hal yang sangat tepat.
Dilanjutkan, dengan berlatih mengurangi durasi melihat media sosial yang kenyataannya menampilkan potret semu belaka. Kedua, menghargai waktu. Membuat prioritas pada aktivitas penting seringkali luput dari ingatan kita.
Kecenderungannya, kita selalu menunda-nunda pekerjaan yang penting hanya karena persepsi orang lain. Jangan habiskan waktu hanya dengan berpikir bagaimana dianggap gaul atau mengikuti trend. Alokasikan waktu untuk menikmati proses memahami perasaan dan keadaan yanag sedang dirasakan. Jangan terlalu banyak melibatkan orang lain, yang sedianya beberapa respon selalu membuat anda kecewa. Ketiga, dalam stoikisme kita dapat belajar bahwa tidak semua harus diikuti.
Mulailah berani menolak apabila kamu merasa lebih perlu bicara pada diri sendiri. Tinggalkan interaksi dan pengalaman semu di medsos. Nikmati pengalaman yang berproses. Mengevaluasi diri, dan melihat potensi lain.
JOMO dan stoikisme sangat relevan dalam dunia yang tengah sibuk dan bergerak cepat. Ambil jeda, dan jangan terburu-buru. Nikmati saat sepi untuk menghasilkan seni terbaik, palin tidak berpikir sebelum bicara, membaca buku hingga tamat, atau menikmati macet sebagai momen refleksi.
Saat orang begitu tergila-gila dengan trend, bukankan menjadi ketinggalan jaman juga sangat menarik? Ikuti webinar Kopi Senja dan Stoikisme di Qubisa bersama Geofakta dan Habibi, melalui link berikut https://www.qubisa.com/webinar/filsafat-anak-muda-kopi-senja-dan-stoikisme
ACN/RED
