Ruang Kuliah sebagai Ruang Diskusi: Mengaktualisasikan Idealitas Komunikasi Habermas

Oleh: Destin Ricardo Lase., S. Fil., M. Pd

Masih segar dalam ingatan saya, seorang mahasiswa semester akhir bercerita tentang pengalamannya selama kuliah. “Pak, dosen saya pintar sekali. Tapi saya merasa ada jarak ketika ingin bertanya. Mungkin beliau terlalu fokus menyampaikan materi, sehingga gaya komunikasinya terasa kaku. Saya jadi ragu untuk bertanya lebih lanjut.”

Cerita ini bukan isolasi. Saya yakin, hampir setiap mahasiswa pernah mengalami atau setidaknya menyaksikan dinamika komunikasi yang cenderung satu arah di ruang kuliah. Di sisi lain, banyak dosen yang sebenarnya sangat berkompeten dan berdedikasi, namun terbebani oleh target kurikulum, waktu perkuliahan yang terbatas, atau kebiasaan pedagogik yang diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, suasana diskusi yang ideal kadang sulit terwujud. Pertanyaan kadang terasa seperti interupsi, dan kritik bisa disalahartikan sebagai pembangkangan—meskipun tidak ada niat buruk dari kedua belah pihak.

Jika kita membaca fenomena ini dengan kacamata Jürgen Habermas, salah satu filsuf terbesar abad ke-20 yang wafat pada 14 Maret 2026 di usia 96 tahun, kita akan menemukan diagnosis yang tidak sekadar kritis, melainkan fundamental. Habermas membedakan antara tindakan komunikatif (kommunikatives Handeln) yang berorientasi pada pemahaman bersama (Verständigung), dengan tindakan strategis yang berorientasi pada keberhasilan dan kekuasaan. Dalam ruang kuliah yang ideal—yang oleh Habermas bisa kita sebut sebagai ruang publik mikro—mahasiswa dan dosen seharusnya bertemu dalam situasi bicara yang ideal (ideale Sprechsituation), di mana hanya kekuatan argumen terbaik yang berkuasa, bukan hierarki, intimidasi, atau rasa takut.

Bagi Habermas, komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang bebas dari dominasi. Dalam karyanya yang monumental, The Theory of Communicative Action (1981), ia mengajukan empat klaim validitas yang harus dipenuhi agar komunikasi bisa disebut rasional dan emansipatoris: klaim kebenaran (truth), klaim kesesuaian normatif (rightness), klaim ketulusan (truthfulness), dan klaim keterpahaman (comprehensibility). Ketika seorang dosen berdiri di depan kelas, idealnya ia membuka ruang bagi mahasiswa untuk menguji keempat klaim tersebut. Apakah argumen dosen benar? Apakah cara ia menyampaikannya sesuai dengan norma saling menghormati? Apakah ia tulus, atau hanya menggurui? Apakah mahasiswa benar-benar memahaminya?

Distorsi Komunikasi: Ketika Kekuasaan Menyamar Sebagai Pengetahuan

Habermas menyebut penyimpangan ini sebagai systematically distorted communication komunikasi yang terdistorsi secara sistemis. Artinya, distorsi ini bukan sekadar kesalahan individu, tetapi sudah membudaya, terstruktur, bahkan dianggap wajar. Di ruang kuliah, distorsi itu muncul ketika dosen menggunakan otoritas akademiknya untuk menutup dialog. Mahasiswa yang berani mempertanyakan argumen dosen sering dijawab dengan, “Kamu belum cukup baca,” atau “Saya lebih tahu karena saya profesor.”

Di sinilah Habermas akan menunjukkan bahwa kekuasaan (power) telah menyamar sebagai pengetahuan (knowledge). Yang seharusnya menjadi hubungan subjek-subjek yang setara dalam pencarian kebenaran, berubah menjadi hubungan subjek-objek: dosen sebagai subjek yang tahu, mahasiswa sebagai objek yang harus menerima. Mahasiswa tidak diajak berpikir, melainkan diarahkan. Bukan emansipasi yang terjadi, melainkan reproduksi dominasi.

Tindakan Strategis vs Tindakan Komunikatif

Salah satu distingsi paling penting dalam teori Habermas adalah antara tindakan strategis(strategic action) dan tindakan komunikatif(communicative action). Tindakan strategis adalah tindakan yang bertujuan untuk memenangkan kepentingan pribadi, seringkali dengan memanipulasi lawan bicara. Tindakan komunikatif, sebaliknya, bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama (consensus) melalui argumen yang jujur dan terbuka.

Gaya komunikasi dosen yang otoriter adalah bentuk murni dari tindakan strategis. Dosen berbicara bukan untuk membangun pemahaman bersama, tetapi untuk mempertahankan status, gengsi, atau rasa takut mahasiswa. Ia mungkin secara halus mengancam nilai, atau secara terang-terangan merendahkan pertanyaan mahasiswa. Tujuannya bukan kebenaran, melainkan kepatuhan. Dalam kerangka Habermas, ini adalah pengkhianatan terhadap proyek pencerahan yang seharusnya diusung oleh pendidikan tinggi.

Dunia Kehidupan vs Sistem

Habermas juga membedakan antara lifeworld (dunia kehidupan) dan system. Dunia kehidupan adalah ruang di mana manusia berinteraksi secara natural, penuh makna, dan berdasarkan saling pengertian. Sekolah, keluarga, dan komunitas adalah contohnya. Sistem, sebaliknya, adalah mekanisme impersonal seperti pasar dan birokrasi yang berjalan berdasarkan logika efisiensi dan kekuasaan.

Masalahnya, menurut Habermas, sistem seringkali “menjajah” dunia kehidupan. Di ruang kuliah, logika sistem—nilai, indeks prestasi, persaingan, target kurikulum—telah mengambil alih logika komunikasi yang sehat. Dosen menjadi agen sistem, bukan pendidik. Ia sibuk mengejar target materi, menekan mahasiswa dengan tenggat waktu, dan mengukur segalanya dengan angka. Akibatnya, komunikasi yang hangat, reflektif, dan emansipatoris tersingkir. Mahasiswa bukan lagi mitra dialog, melainkan komoditas yang harus “lulus tepat waktu.”

Gejala dalam Kelas: Diamnya Suara Kritis

Apa yang terjadi ketika komunikasi terdistorsi secara sistemis selama bertahun-tahun? Mahasiswa belajar untuk diam. Mereka belajar bahwa bertanya itu berisiko, berbeda itu berbahaya, kritis itu tidak sopan. Dalam bahasa Habermas, mereka mengalami internalisasi represi—mereka menekan keraguan dan kritik mereka sendiri karena sudah tidak percaya bahwa komunikasi yang jujur mungkin terjadi.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Habermas tidak hanya memberi diagnosis, tetapi juga resep. Ia percaya pada kekuatan ruang publik (public sphere) yang bebas dari dominasi. Di ruang kuliah, ruang publik itu harus diciptakan oleh dosen secara sadar. Artinya, dosen harus bersedia melepaskan sebagian otoritasnya, membuka diri untuk dikritik, dan menciptakan kondisi di mana mahasiswa merasa aman untuk berbicara jujur.

Tanggung Jawab Institusi

Tentu saja, perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada individu dosen. Institusi perguruan tinggi harus menciptakan ekosistem yang mendukung komunikasi emansipatoris. Sistem evaluasi dosen, misalnya, harus memasukkan indikator “kemampuan membuka ruang dialog”, bukan hanya jumlah publikasi. Pelatihan pedagogik harus berisi materi tentang etika komunikasi dan kesadaran kritis ala Habermas. Bahkan, kurikulum perlu dirancang untuk memberi ruang bagi diskusi reflektif, bukan hanya transfer pengetahuan.

Tanpa perubahan struktural, upaya dosen individu akan seperti menanam benih di tanah yang gersang. Distorsi komunikasi akan terus terproduksi dari satu generasi dosen ke generasi berikutnya.

Kembali ke Tugas Mulia Pendidikan

Apa tujuan akhir pendidikan menurut Habermas? Bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi emansipasi—pembebasan manusia dari segala bentuk dominasi yang tidak sah. Emansipasi dimulai dari ruang kelas. Dimulai dari cara kita berbicara, cara kita mendengar, cara kita merespons perbedaan. Jika seorang dosen tidak bisa diajak berdialog, bagaimana mungkin ia mencetak generasi yang percaya pada dialog? Jika ruang kuliah adalah ruang yang penuh ancaman terselubung, bagaimana mungkin mahasiswa keluar sebagai agen perubahan yang berani?

Mari kita renungkan pesan Habermas: komunikasi yang bebas dominasi adalah fondasi masyarakat yang adil. Jika kita gagal membangunnya di ruang kuliah, jangan harap kita akan menemukannya di parlemen, di kantor, atau di ruang publik mana pun. Tanggung jawab ada di pundak kita, para dosen. Maukah kita menjadi bagian dari masalah, atau bagian dari solusi?

Destin Ricardo Lase adalah Dosen di Prodi Bimbingan dan Konseling, Universitas Nias.

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles