Friday, February 6, 2026

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ( PDPI) “HARI PNEUMONIA SEDUNIA 2022

ACTUALNEWS ID, Jakarta – Penyakit Pneumonia dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan dua penyakit yang bermasalah tertinggi di dunia. DR. Dr. Fathiyah Isbaniah, Sp.P(K), FISR menjelaskan, Pneumonia merupakan suatu peradangan akut parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), tidak termasuk Mycobacterium tuberculosis. Secara klinis dan epidemiologis, pneumonia diklasifikasi menjadi pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia/CAP), pneumonia didapat di rumah sakit (hospital-acquired pneumonia/HAP), dan pneumonia terkait ventilator (ventilator-associated pneumonia).

“Pneumonia secara global merupakan penyebab kematian dan kesakitan utama. Hal tersebut berhubungan dengan adanya resistensi antibiotik, meningkatnya populasi usia lanjut, dan tingginya populasi dengan komorbiditas kronik,” jelas dr. Fathiyah, Rabu (16/11/2022), dalam acara konferensi pers virtual yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam rangka Peringatan Hari Pneumonia Sedunia yang jatuh pada tanggal 12 November 2022 dan Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Sedunia tanggal 17 November 2022.

Selain menyebabkan beban kesehatan yang besar, tambah dr. Fathiyah, pneumonia juga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan dari biaya rawat inap dan pengobatan yang diperlukan. Prevalensi pneumonia secara umum di Indonesia yang terdiagnosis oleh dokter dan tenaga kesehatan lain adalah sekitar 2%. Angka ini menjadi lebih tinggi, mencapai 4%, jika populasi yang bergejala demam, batuk, dan sesak napas tetapi belum terdiagnosis juga diperhitungkan.

“Kejadiannya cenderung lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 55 tahun ke atas (2,5-3%). Dengan merebaknya kasus Covid 19 di dunia sejak akhir tahun 2019, maka angka prevalensi pneumonia virus cenderung mengalami peningkatan hingga saat ini. Total jumlah kasus COVID-19 di dunia sudah mencapai 630 juta kasus dengan angka kematian 6 juta jiwa,” ungkapnya.

Dr. Arief Bakhtiar, Sp.P(K) mengatakan, penderita pneumonia diperlukan upaya therapi untuk mengurangi gejala yang berat sekali, meningkatkan status kesehatan, mencegah berkembangnya penyakit lebih lanjut, mencegah dan mengobati kekambuhan, dan mengurangi resiko kematian.

“Karena banyak pasien yang merasa takut untuk kembali diperiksa dokter, maka kami menghimbau para penderita untuk kembali memeriksakan kesehatannya karena pengobatannya harus tetap berjalan,” tutur Dr. Arief.

Sementara itu, Ketua Umum PDPI, DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR dalam keterangan menyampaikan, di Indonesia saat kasus baru COVID-19 pada 10 November 2022 mencapai 6.291 kasus dengan total kematian mencapai 158 ribu kematian. Strategi, upaya, dan kerjasama dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam proses penanggulangan penyakit ini untuk menghindari dampak buruk di bidang kesehatan dan sosial ekonomi lebih lanjut.

“Peringatan hari Pneumonia Sedunia pada tanggal 12 November 2022 mengingatkan kita bahwa Pneumonia masih memerlukan perhatian khusus dari seluruh stakeholder kesehatan,” ujarnya.

Tingginya angka mortalitas dan morbiditas serta adanya resistensi antibiotik yang semakin meningkat dewasa ini, kata Dr. Agus, menjadikan tindakan pencegahan infeksi sangatlah penting. Pemberian terapi khususnya antibiotik yang bijak juga harus menjadi suatu perhatian.

Oleh karena itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menghimbau kepada seluruh anggota PDPI dan tenaga kesehatan di Indonesia untuk tetap berkomitmen untuk bergerak memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tindakan pencegahan penularan infeksi terutama vaksinasi dan menggunakan terapi antibiotik secara bijak.

  1. Saat ini terjadi perubahan dominansi etiologi infeksi pneumonia khususnya pneumonia komunitas. Pada era sebelum penggunaan antibiotik, S. pneumoniae (pneumokokus) merupakan penyebab 90-95% kasus. Angka ini semakin berkurang seiring meningkatnya penggunaan antibiotik dan vaksinasi pneumokokus, hingga menjadi berkisar antara 5-15% pada beberapa studi terbaru di Amerika Serikat dan sebesar 20-25% dari data studi di benua Eropa. Penyebab terbanyak pneumonia komunitas lainnya adalah Haemophilus influenzae (7%), Staphylococcus aureus (4%), Q positif menjadi bakteri gram negatif seperti pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan bakteri enterik gram negatif. Dalam hal ini perlu kajian lebih lanjut mengenai pemberian antibiotik yang perlu disesuaikan dengan pola kepekaan kuman setempat.
  2. Komorbid kronis merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan terutama dalam sebagai langkah pencegahan infeksi. PPOK merupakan faktor risiko terkuat terhadap pneumonia komunitas, dengan odds ratio (OR) sebesar 1,91. Komerbid lain yang sering berhubungan dengan tingginya angka kejadian pneumonia yaitu penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, penyakit ginjal atau hati kronik, keganasan, autoimun, dan penyakit serebrovaskuler Diharapkan agar seluruh anggota PDPI senantiasa mengedukasi pasien dengan penyakit kronis untuk melakukan kontrol rutin terhadap penyakit kronik yang dideritanya..
  3. Infeksi pneumonia yang disebabkan oleh virus harus dipertimbangkan pada setiap pasien Pneumonia. Jika terdapat kecurigaan terjadinya infeksi COVID-19, penegakkan diagnosis melalui swab RT-PCR atau antigen dan pemberian terapi standar harus dilakukan. Jika virus influenza sedang beredar di komunitas, pasien pneumonia komunitas sebaiknya diperiksa untuk infeksi influenza dengan tes cepat molekuler (yaitu tes amplifikasi asam nukleat influenza), yang lebih direkomendasikan dibandingkan dengan tes cepat diagnostik (yaitu tes antigen) jika fasilitas tersedia.
  4. Pemberian terapi antibiotik yang bijak dan rasional sangat penting untuk mencegah meningkatnya angka resistensi. Seluruh anggota PDPI dihimbau untuk meningkatkan pengetahuan mengenai antibiotik Stewardship. Pasien dengan pneumonia berat dapat diperiksa pewarnaan Gram, biakan sputum, darah, dan uji antigen urin untuk Legionella dan Pneumokokkal sebelum diberikan antibiotik. Pemeriksaan apusan Gram dan biakan sputum hanya dapat dilakukan jika hasil sputum yang dikeluarkan kualitasnya baik termasuk cara pengumpulan, transportasi dan proses pemeriksaan di laboratorium. Selain itu, Rekomendasi ini dilatar belakangi oleh bukti kuat yang menunjukkan bahwa pengambilan sampel biakan secara rutin dapat meningkatkan luaran pada pasien pneumonia dan mempercepat proses deeskalasi pemberian antibiotik. Keputusan untuk melakukan uji biakan resistensi perlu ditentukan oleh setiap klinisi dengan mempertimbangkan gejala klinis, data epidemiologis, dan program pencegahan resistensi antibiotik di fasilitas kesehatan masing-masing.
  5. Memperkenalkan vaksinasi untuk pencegahan pneumonia kepada masyarakat harus mulai dilakukan oleh seluruh anggota PDPI. Vaksinasi pneumonia pada orang dewasa rentan dengan komorbid merupakan usaha pencegahan yang dapat menurunkan risiko terjangkit dan menularkan pneumonia. Terdapat beberapa vaksin untuk mencegah penyakit infeksi saluran pernapasan dan paru diantaranya adalah vaksin influenza, vaksin pneumokokus, dan vaksin COVID-19.
  6. Anggota PDPI juga diharapkan dapat bekerjasama untuk pembuatan panduan terapi pneumonia nasional dengan mengumpulkan data pneumonia terintegrasi dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga dapat menjadi acuan terapi standar yang disesuaikan dengan pola kuman dan resistensi antibiotik nasional.
  7. Anggota PDPI bersama menyuskseskan program berhenti merokok dengan edukasi berkesinambungan kepada masyarakat. Merokok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pneumonia. Perokok memiliki risiko 2,17 kali lebih tinggi untuk mengalami pneumonia komunitas dibandingkan populasi tidak merokok. Individu usia ≥ 65 tahun dan perokok pasien memiliki risiko infeksi pneumonia komunitas 64% dibandingkan populasi umum.

Untuk Masyarakat, PDPI menghimbau:

  1. Selama masa pandemi masyarakat dihimbau untuk meningkatkan asupan gizi, istirahat cukup, berolahraga teratur, mengurangi stress dalam rangka meningkatkan daya tahan tubuh untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi.
  2. Masyarakat tetap disarankan melakukan protokol kesehatan ketat dalam rangka mencegah penularan penyakit infeksi paru.
  3. Masyarakat dihimbau untuk berhenti merokok sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi paru.
  4. Masyarakat dihimbau segera memeriksakan diri jika terdapat salah satu gejala yang mengarah ke Pneumonia seperti batuk dengan atau tanpa dahak, sesak, demam, dengan gejala penyerta lainnya.
  5. Masyarakat dihimbau untuk tidak mengonsumsi antibiotik tanpa indikasi dari dokter karena dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotik.
  6. Bagi masyarakat yang memiliki komorbid kronis dianjurkan untuk melakukan kontrol rutin untuk mencegah terjadinya infeksi pneumonia denga risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
  7. Dihimbau kepada masyarakat untuk melakukan vaksinasi pencegahan infeksi paru seperti vaksin pneumokokus, vaksin influenza, dan vaksin COVID-19.

Untuk pemerintah, PDPI menyampaikan bahwa dukungan dan komitmen pemerintah sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan akibat pneumonia. Kebijakan-kebijakan terutama untuk mencegah penularan infeksi dan penanggulangan resistensi antibiotik.

  1. Komitmen pemerintah untuk membantu penyebaran informasi mengenai gaya hidup sehat dan berhenti merokok.
  2. Kebijakan dan komitmen pemerintah dalam upaya disiplin penggunaan protokol kesehatan oleh masyarakat umum.
  3. Diharapkan komitment pemerintah dalam pengadaan program edukasi kepada masyarakat mengenai gejala dan tanda pneumonia sehingga masyarakat dapat memeriksan diri segera ke pusat pelayanan kesehatan.
  4. Kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah konsumsi antibiotik tanpa indikasi dokter oleh masyarakat umum.
  5. Penyediaan pelayanan fasilitas kesehatan secara merata dan terjangkau oleh masyarakat luas dapat membantu agar masyarakat dengan komorbid kronis dapat kontrol secara rutin.
  6. Kebijakan dan komitmen pemerintah sangat diperlukan untuk menggalakkan program vaksinasi Pneumokokkus, Influenza, dan COVID-19 sebagai upaya mencegah Pneumonia.

PDPI Terus Berkarya Untuk Bangsa
Dengan semakin berkembangnya ilmu dan pengetahuan di bidang pneumonia, PDPI berkomitmen terus memberikan pelayanan paripurna dengan peningkatan tindakan
pencegahan penularan infeksi dan resistensi antibiotik. PDPI terus mengembangkan dan mendukung penanganan Pneumonia yang lebih baik dari tingkat pusat dan perifer, pengembangan dan pengadaan alat dan teknologi baru dalam diagnosis dan tatalaksana Pneumonia. PDPI juga terus melakukan penelitian dalam rangka pengembangan vaksin, obat-obatan Pneumonia terbaru untuk dapat direkomendasikan kepada pemerintah guna dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas Pneumonia.

PDPI sebagai garda terdepan yang berkomitmen untuk berperan aktif dalam menanggulangi penyakit respirasi di Indonesia termasuk Pneumonia. PDPI akan terus berjuang bagi kesehatan bangsa. Mari berjuang bersama dalam menanggulangi Pneumonia.

ACN/INDAH/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles