Sunday, March 15, 2026

Pembongkaran Patung 3 Tokoh Penumpas G.30.S PKI Mau Pakai Kacamata Syariah Atau NKRI, Sebagau Catatan Editorial

ACTUALNEWS.ID, Jakarta – Menyusul ramainya gonjang ganjing pembongkaran patung tiga tokoh penumpasan G.30 S.PKI di museum Darma Bhakti Kostrad di Jl.Merdeka Timur Jakarta, September 2021 ini cukup mengundang polemik antar elite politik dan jd suguhan berita viral dimasyarakat .

Di Era Reformasi terlebih dimasa pemerintahan Jokowi seperti tiada hentinya setiap tahun menginjak bulan September para elite khususnya kelompok oposisi dg koalisi rezim berpolemik dg Issue Bangkit atau tidaknya PKI dibumi Nusantara ini.

Hal ini menjadi hal yg sensitif karena mantan Panglima TNI Jend. Purn. Gatot Nurmantio, setelah dg ngototnya wajib menonton film penghianatan G30S.PKI, September inipun mengungkapkan, bahwa pembongkaran ketiga tokoh itu Patung Jend. Soeharto, Jend. AH Nasution dan Letjend. Sarwo Edhy, menurut Gatot, adalah menjadi indikasi bahwa PKI sdh menyusup ketubuhTNI, hal didukung komentar kelompok oposisi lainnya seperti Fadli Jon dan Rocky Gerung yg senada dengan Gatot.

Dibagian lain Mantan Pangkostrad Priode 2011-2012 Letjend. Purn.AY Nasution sebagai penggagas pertama berdirinya tiga patung tokoh itu justru mengatakan persepsi Gatot dan kelompoknya terlalu dangkal, hanya karena membongkar patung itu dr museum Kostrad lantas menandakan PKI sudah merambah ke tubuh TNI, “Saya saat ini karena sdh usia uzur lebih kepada ibadah dan berketepatan agama Islam saya melarang pendirian patung2, maka lahir batin saya meminta Pangkostrad Letjend. Dudung untuk mbongkarnya, walaupun saya adalah penggagas ide pendirian patung2 dimaksud “.

Dibagian lainpun mantan Pangkostrad Jend.Agum Gumelar mengingatkan, hendaknya lebih bijak lagilah bicara tentang TNI, tidak semudah yg dibayangkan jika paham komunis masuk keinstitusi pertahanan negara.

Fadly Zon dlm kaitan ini menegaskan, pembongkaran ketiga patung bersejarah itu tdk bisa hanya dikarenakan permintaan perseorangan, ini kesalahan yg sangat fatal, ungkap Fadly, sama dg sikap yg bertentangannya dg aturan negara.

Editorial kali ini mengajak bagaimana kita melihat secara profesional dan proporsional masalah adanya pembongkaran patung itu dengan memakai kacamata apa yang akan digunakan ? Jgn pat gulipat dg kepentingan politik perseorangan atau kelompok. Artinya sebentar bicara aturan syariah, dan sebentar bicara Nasionalis. Hingga tdk sadar semata2 hanya kepentingan politik saja, bisa berganti ganti identitas tergantung situasi dan kondisinya.

Dalam persfektif pandangan Akidah dan kaidah Islam, memang pendirian patung diharamkan karena malaikatpun enggan masuk pada bangunan/rumah yang didalamnya terdapat patung dan hiasan atau gambar Sebagaimana dikisahkan saat nabi Ibrahim AS yg menghancurkan patung2 berhala ada dibeberapa ayat Alquran diantaranya QS. Al Anbiya.58 dan terdapat di Hadist riwayat Bukhari dan Muslim.

Namun konteks perekat persatuan dan kesatuan bangsa dg beragam agama sebagai bentuk toleransi terbatas, itupun ada dalam Alquran dari beberapa ayat seperti Albaqarah dan Alan’am. Artinya memepersilahkan umat beragama non Islam utk bebas mendirikan patung dibangunan atau dirumahnya sekalipun. Maka seyogyanya Museum Nadional Gajah yg ada di Jl.Merdeka Barat dpt diperluas lagi arealnya, atau mencari lahan baru, sehingga museum yg bersipat umum itu menyuguhkan apapun yg bersejarah dg deorama patung apapun itu utk umum dengan keberagaman agama, suku adat apapun pengunjung dapat masuk.

Jd tidak ada lagi museum umum dg panorama ekslusif. Jd marilah kita lebih melihat dari sudut pandang apa ttg kejadian pembongkaran patung dimuseum Kostrad itu, yg berketepatan momentumnya terjadi di bulan September 2021 Kronologis polemik tentang patung bersejaran itu saat AY Nasution 30 Agustus lalu berkunjung ke Kostrad dan kunjungan itu lbh kepada silaturahmi senior mantan Pangkostrad kpd Pangkostrad yg menjabat sekarang, dan sesaat beberapa hari kemudian terjadi pembongkaran tiga patung tokoh penumpasan PKI dimuseum itu.

Hingga tak ayal Pangkostrad Dudungpun jadu bahasan. Hingga polemikpun terjadi dari yg dihubungkan akidah dan kaidah Islam , dan disisi lain berpendapat tdk nasionalis , bahkan ada pola pemikiran ekstreem yg menduga kejadian pembongkaran tsb sebagai bentuk antipatinya terhadap rezim orde baru saat Presiden Soeharto berkuasa. Allahualam Bisawab mari kita memakai kacamata obyektif bijak dan netral dan salalu berbaik sangka.

Ditulis oleh : Tb Boy Tanaya. P.Sip.( Pemimpin BidikNetralNews).

Editor : Robert. SH,Siagian (Wakil Pimpinan Redatur ActualNews)

ACN/Rbt/Red

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles