ACTUALNEWS.ID, TANGERANG — Polemik penyebaran rekaman video call antara seorang pria berinisial Y dan RO terus menjadi sorotan. Penasihat hukum Zanzabella, Ranto Sibarani, S.H., M.H., menyampaikan kronologi peristiwa sekaligus membantah tuduhan yang menyebut kliennya menjebak, mengatur pertemuan, atau menjadi pihak yang menyebabkan rekaman tersebut tersebar luas, pada Konfresi Pers Senin (19/10/2026) BSD Tangerang
Dalam keterangannya, Ranto menegaskan bahwa Zanzabella tidak pernah menerima maupun menguasai rekaman video call tersebut. Ia juga menyatakan bahwa kliennya justru telah melarang Sarwendah maupun pihak lain menyebarluaskan rekaman itu.
Ranto kemudian memaparkan sejumlah peristiwa yang menurutnya perlu diketahui publik agar persoalan tersebut tidak dinilai hanya berdasarkan spekulasi atau narasi yang beredar di media sosial.
Zanzabella Tegaskan Sikap Independen dan Objektif
Ranto menjelaskan, pada awalnya Zanzabella memang memberikan dukungan kepada Sarwendah. Namun, dukungan tersebut diberikan sebelum seluruh informasi diperoleh secara berimbang dan fakta-fakta yang berkaitan dengan persoalan itu diketahui secara menyeluruh.
Menurutnya, Zanzabella berhak menentukan siapa yang ingin didukung berdasarkan penilaiannya sendiri, tanpa adanya imbalan dari pihak mana pun.
Perubahan pandangan, lanjut Ranto, bukan merupakan bentuk pengkhianatan, melainkan bagian dari penilaian objektif seiring munculnya informasi dan fakta baru.
Zanzabella juga disebut tidak berada di bawah kendali atau kepentingan kubu tertentu. Ia menginginkan agar persoalan tersebut dibuktikan secara adil dan sah melalui proses hukum atau persidangan, bukan ditentukan oleh spekulasi liar warganet.
Sarwendah Disebut Lebih Dulu Mengajak Bertemu
Mengenai awal pertemuan, Ranto menyatakan bahwa Sarwendah merupakan pihak yang terlebih dahulu mengajak Zanzabella bertemu.
Ia merujuk pada percakapan melalui pesan tertanggal 5 Agustus 2026 dan seterusnya, yang menurutnya memperlihatkan Sarwendah beberapa kali menanyakan lokasi pertemuan, termasuk apakah pertemuan sebaiknya dilakukan di rumah Zanzabella atau di tempat Sarwendah.
Atas dasar itu, Ranto membantah unggahan akun Instagram @sarwendah29 yang menyatakan bahwa Ibu Z—sebutan yang digunakan dalam unggahan tersebut—mengundang Sarwendah untuk bertemu dengan Artos, yang disebut sebagai teman pria berinisial Y.
Sementara itu, berdasarkan keterangan Kelly, mantan asisten Zanzabella, dalam kontennya, Artos disebut sebagai pacar dari pria berinisial Y.
Keterangan mengenai hubungan tersebut merupakan bagian dari informasi yang disampaikan dalam polemik ini dan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Awal Mula Rencana Penyebaran Video Call Y dan RO
Ranto juga menyinggung aktivitas siaran langsung akun Aastory, yang disebut sebagai teman dari pria berinisial Y. Y sendiri merupakan pria yang diduga melakukan video call dengan RO.
Menurut Ranto, dalam salah satu siaran langsungnya, Aastory menyampaikan akan membongkar atau memperlihatkan video RO dan Y apabila memperoleh hadiah virtual tertentu dari penonton.
Pada 1 September 2026, seorang penggemar Sarwendah melalui akun Mak Dollar disebut mengirimkan pesan langsung kepada Zanzabella. Dalam pesan tersebut, Zanzabella diminta memberikan hadiah virtual berupa paus kepada akun Aastory agar rekaman video call Y dan RO diungkap.
Ranto menyebut Zanzabella akhirnya menjadi top gifter dalam siaran langsung tersebut.
Menurutnya, peristiwa itu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menelusuri sejak kapan rencana memviralkan rekaman tersebut muncul dan siapa saja pihak yang terlibat.
Ranto juga mempertanyakan pihak yang berpotensi memperoleh keuntungan finansial dari polemik video call tersebut. Namun, mengenai ada atau tidaknya keuntungan finansial serta pihak yang menerimanya, diperlukan bukti dan penelusuran lebih lanjut.
Pertemuan 6 September 2026 dan Pemberian Uang
Ranto selanjutnya mengungkapkan bahwa, sebelum pertemuan berlangsung, Sarwendah disebut mengalami kesulitan dalam proses di KPAI dan membutuhkan bukti tambahan. Menurut penjelasan yang disampaikan Ranto, Sarwendah menilai materi yang diungkap Artos dapat digunakan dalam persidangan untuk memperjuangkan hak asuh anak.
Pada 2 September 2026, Sarwendah disebut menghubungi Zanzabella melalui sambungan telepon untuk menanyakan apakah Artos dapat diatur agar bersedia bertemu. Tujuannya, menurut kronologi yang disampaikan, adalah memperoleh rekaman video call Y dan RO.
Sehari kemudian, pada 3 September 2026, Artos datang ke rumah Zanzabella. Dalam kesempatan tersebut, Zanzabella menanyakan apakah Artos bersedia bertemu dengan Sarwendah. Artos disebut menyatakan kesediaannya.
Pertemuan akhirnya berlangsung pada 6 September 2026 di rumah Zanzabella.
Ranto menjelaskan, Jaenudin bersama timnya datang terlebih dahulu, kemudian disusul Sarwendah bersama timnya, dan selanjutnya Artos bersama timnya.
Dalam pertemuan tersebut, Ranto menegaskan bahwa Zanzabella tidak pernah menerima, melihat, ataupun menguasai rekaman video call Y dan RO.
Menurut keterangannya, rekaman tersebut justru diterima Sarwendah dari Artos.
Ranto juga menyebut bahwa setelah pertemuan itu, Sarwendah memberikan uang sebesar Rp30 juta kepada Artos, sedangkan Zanzabella memberikan tambahan Rp5 juta kepada Artos.
Informasi mengenai pemberian uang tersebut merupakan bagian dari kronologi versi pihak Zanzabella. Tujuan, konteks, serta kaitan pemberian uang itu dengan penyerahan rekaman perlu diperjelas melalui bukti dan keterangan para pihak yang terlibat.
Zanzabella Disebut Melarang Penyebaran Rekaman
Ranto menegaskan bahwa kliennya tidak menghendaki rekaman video call Y dan RO disebarluaskan kepada publik.
Ia menyebut terdapat percakapan melalui pesan antara Zanzabella dan Sarwendah pada 19 September 2026 yang, menurutnya, memperlihatkan larangan tersebut. Selain itu, Zanzabella disebut pernah menghubungi Artos melalui telepon untuk menyampaikan hal serupa.
Namun, untuk memastikan isi dan konteks komunikasi tersebut, bukti percakapan maupun rekaman komunikasi perlu diperiksa secara utuh.
Ranto menyatakan, rekaman video call Y dan RO kemudian menjadi viral melalui unggahan kolaborasi atau collab di Instagram yang melibatkan Sarwendah dan Artos, sekitar 10 Oktober 2026.
Menurutnya, penyebaran rekaman itu telah dilaporkan oleh pengacara RO.
Bantah Tuduhan Menjebak dan Mengatur CCTV
Polemik semakin berkembang setelah Kelly, mantan asisten Zanzabella, membuat unggahan pada 12 Oktober 2026. Dalam unggahan tersebut, Kelly disebut menuduh Zanzabella menjebak, mengatur pertemuan, dan menyudutkan pihak lain sehingga menyebabkan rekaman video call Y dan RO tersebar.
Menanggapi tuduhan itu, Ranto dengan tegas membantah bahwa kliennya menjebak pihak mana pun.
“Tidak benar Zanzabella menjebak, karena Zanzabella tidak pernah menerima dan menguasai rekaman video call Y dengan RO,” demikian penegasan yang disampaikan dalam keterangan pihak kuasa hukum.
Ranto juga membantah adanya pengaturan CCTV sebagaimana yang dituduhkan. Menurutnya, hal yang ditampilkan Kelly berkaitan dengan pengaturan air minum di setiap meja di rumah Zanzabella. Ia menyatakan terdapat percakapan yang dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan tersebut.
Selain itu, Ranto menyinggung sebuah video yang disebut memuat pernyataan Pablo. Dalam video tersebut, Pablo dikabarkan mengaku pernah ditanya Sarwendah mengenai apakah rekaman itu boleh diunggah dan apakah pengunggahannya dapat dilaporkan.
Menurut penjelasan Ranto, Pablo menjawab bahwa siapa pun berhak melaporkan apabila rekaman tersebut disebarkan.
Ranto menilai jawaban itu tidak menunjukkan adanya larangan dari Pablo terhadap Sarwendah untuk mengunggah rekaman tersebut. Meski demikian, penilaian mengenai maksud dan konteks pernyataan itu memerlukan pemeriksaan terhadap video secara utuh.
Kuasa Hukum Singgung Unsur Kesengajaan
Dalam keterangannya, Ranto turut menyinggung doktrin hukum volenti non fit injuria, yang secara umum berkaitan dengan keadaan ketika seseorang secara sadar dan sukarela menerima suatu risiko.
Namun, penerapan doktrin tersebut terhadap persoalan ini perlu dilihat berdasarkan fakta, konteks, dan ketentuan hukum yang relevan. Doktrin itu tidak serta-merta menghapus tanggung jawab hukum dalam setiap perkara.
Ranto juga menegaskan bahwa menurut pihaknya, tidak terdapat niat jahat atau mens rea dari Zanzabella terkait penyebaran rekaman tersebut.
Ia menyatakan kliennya tidak pernah menyuruh, memaksa, ataupun memanipulasi siapa pun untuk mengunggah video tersebut. Sebaliknya, menurut Ranto, Zanzabella justru telah melarang penyebarannya.
Atas dasar itu, pihak kuasa hukum meminta agar tuduhan terhadap Zanzabella tidak disimpulkan hanya dari rangkaian unggahan media sosial, tetapi diperiksa berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kelly Dilaporkan ke Kepolisian
Di luar polemik rekaman video call, Ranto juga menyampaikan bahwa Novita Sari alias Kelly, yang merupakan mantan asisten Zanzabella, telah dilaporkan ke kepolisian pada 12 Oktober 2026.
Laporan tersebut disampaikan ke Polsek Cipondoh, Polres Metro Tangerang Kota, atas dugaan pencurian dan/atau penggelapan satu unit telepon seluler serta uang sebesar Rp3 juta.
Status dan perkembangan penanganan laporan tersebut perlu dikonfirmasi kepada pihak kepolisian. Pelaporan merupakan langkah awal dalam proses hukum dan tidak dengan sendirinya membuktikan seseorang bersalah.
Pertanyakan Pihak yang Diuntungkan dari Polemik
Ranto juga menyoroti hubungan yang dinilainya terlihat antara Sarwendah, Kelly, dan Artos dalam perkembangan polemik tersebut. Ia merujuk pada unggahan ulang atau repost yang dinilai menyudutkan Zanzabella dan menggambarkan kliennya sebagai pihak di balik penyerahan rekaman video call Y dan RO.
Pihak kuasa hukum menduga Zanzabella justru menjadi pihak yang dijebak. Menurut mereka, kronologi yang disampaikan perlu menjadi dasar untuk menelusuri siapa yang menginisiasi pengungkapan rekaman, siapa yang menerima rekaman, serta siapa yang akhirnya menyebarkannya.
Siapa menjebak siapa?” menjadi pertanyaan yang diajukan pihak Zanzabella dalam menanggapi tuduhan tersebut.
Ranto juga mempertanyakan siapa yang memperoleh keuntungan dan siapa yang sejak awal menginginkan rekaman itu tersebar.
Meski demikian, pertanyaan mengenai motif, keuntungan finansial, dan tanggung jawab setiap pihak masih perlu dijawab melalui pemeriksaan bukti serta keterangan seluruh pihak terkait.
Pada akhirnya, polemik ini membutuhkan klarifikasi yang menyeluruh agar fakta tidak tercampur dengan dugaan. Penentuan tanggung jawab hukum harus didasarkan pada bukti yang sah, bukan semata-mata pada narasi yang berkembang di media sosial.
ACN/Calista/RED
