ACTUALNEWS.ID, HANOI, VIETNAM — FAME Indonesia melakukan kunjungan akademik ke Vietnam National University (VNU) Hanoi dengan membawa delegasi yang merepresentasikan jejaring 24 perguruan tinggi di Indonesia. Kunjungan tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Vietnam.
Kolaborasi yang didorong mencakup bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, mobilitas mahasiswa dan dosen, hingga pengembangan kemitraan kelembagaan di tingkat internasional.
Kehadiran FAME Indonesia di Vietnam merupakan bagian dari rangkaian The 3rd International Sandbox Conference 2026, sekaligus menjadi momentum peluncuran International Conference on Accounting, Management and Economic Resilience, konferensi internasional pertama yang diselenggarakan FAME Indonesia.
Dalam sambutannya, Manajemen Eksekutif FAME Indonesia, Prof. Yuliansyah, menegaskan FAME bukan sekadar forum konferensi, melainkan komunitas akademik kolaboratif yang mempertemukan perguruan tinggi, akademisi, peneliti, dan praktisi, khususnya dalam bidang akuntansi, manajemen, dan ekonomi.
“FAME is a collaborative academic community connecting universities, academics, researchers, and practitioners in the fields of Accounting, Management, and Economics,” ujar Prof. Yuliansyah.
Menurutnya, kunjungan ke Vietnam memiliki agenda yang lebih luas dari sekadar mengikuti konferensi. FAME Indonesia mendorong terbentuknya kolaborasi konkret antara perguruan tinggi Indonesia dengan Vietnam National University (VNU).
Kerja sama tersebut diarahkan pada berbagai program, seperti pengajaran, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran mahasiswa dan dosen, publikasi ilmiah, seminar internasional, serta pengembangan kemitraan antarinstitusi.
Dorong MoU dengan Perguruan Tinggi Indonesia
Salah satu agenda strategis dalam pertemuan tersebut adalah penguatan kerja sama antara VNU dengan perguruan tinggi di Indonesia.
FAME Indonesia mendorong terbangunnya kerja sama melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Sejumlah institusi yang terlibat dalam agenda kerja sama tersebut yakni FAME Indonesia, Universitas Widya Gama Malang (UWG), Politeknik Negeri Malang (POLINEMA), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cendekia Bojonegoro (STIEKIA Bojonegoro), Universitas Mulawarman (UNMUL), Universitas Muslim Indonesia (UMI), dan Politeknik Negeri Medan (POLMED).
Selain itu, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Universitas PGRI Mpu Sindok (UPMS) Nganjuk, Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), Universitas Dehasen Bengkulu (UNIVED), Politeknik Negeri Sriwijaya (POLSRI), STIE Krakatau, Universitas Negeri Semarang (UNNES), UIN Raden Fatah Palembang, Universitas Islam Balitar (UNISBA), serta Universitas Bojonegoro (UNIGOR).
Ketua Umum FAME Indonesia, Dr. Dani Amrul Ichdan, menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak seharusnya berhenti pada penandatanganan dokumen semata.
“For us, an MoU is not simply a document. It should be the beginning of real collaboration,” kata Dani saat pemberangkatan delegasi.
Menurut Dani, kerja sama tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui berbagai program konkret, mulai dari student and staff mobility, penelitian bersama (joint research), publikasi bersama (joint publications), pengabdian kepada masyarakat, seminar, hingga kegiatan akademik lainnya.
Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi perlu diarahkan pada kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi institusi pendidikan, dosen, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat.
Dari Hanoi Bangun Jejaring Akademik Global
Kehadiran FAME Indonesia di Hanoi juga menjadi ruang strategis untuk membangun hubungan akademik yang semakin erat antara Indonesia dan Vietnam.
Prof. Yuliansyah berharap pertemuan tersebut menjadi fondasi bagi terbentuknya kemitraan akademik Indonesia–Vietnam dalam jangka panjang, dengan VNU dan perguruan tinggi Indonesia menjadi bagian penting dalam ekosistem kolaborasi tersebut.
“This is not the end of our collaboration—it is only the beginning,” tegas Prof. Yuliansyah.
Pernyataan tersebut menggambarkan semangat FAME Indonesia untuk menjadikan konferensi internasional bukan sebagai titik akhir sebuah kegiatan, melainkan titik awal bagi lahirnya berbagai program kolaborasi akademik yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dengan membawa jejaring yang merepresentasikan 24 perguruan tinggi, FAME Indonesia ingin menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi dapat diperkuat melalui jejaring, kolaborasi, dan komitmen bersama.
Dari Hanoi, semangat tersebut diarahkan untuk membuka semakin banyak kesempatan bagi dosen, mahasiswa, peneliti, serta institusi pendidikan tinggi Indonesia untuk terhubung, bertukar pengetahuan, melakukan penelitian bersama, dan membangun kemitraan dengan berbagai institusi global.
ACN/RED
