GPM Kota Yogyakarta Hasilkan GEN-M, Medsos Perjuangan Marhaenisme dan Suara Kegelisahan GEN Z

ACTUALNEWS.ID Yogyakarta, 16 September 2026 — Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Yogyakarta melahirkan sebuah inisiatif baru di ruang digital dengan menyiapkan media sosial bernama GEN-M. Media sosial ini diproyeksikan menjadi ruang untuk mengenalkan nilai-nilai Marhaenisme kepada generasi Z sekaligus menjadi wadah menyuarakan berbagai kegelisahan, aspirasi, dan persoalan yang dihadapi anak muda hari ini.

Gagasan tersebut disepakati dalam rapat yang dilaksanakan di Bale Marhaen, Yogyakarta, pada Rabu, 16 September 2026. Bale Marhaen diposisikan bukan sekadar sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai rumah perjuangan kaum Marhaen, tempat gagasan, kegelisahan rakyat, dan semangat perjuangan anak muda terus dibicarakan dan dikembangkan.

Rapat tersebut dihadiri Naeyla, Wakil Ketua Bidang Gen Z DPC GPM Kota Yogyakarta, didampingi Fais Hakim, Sekretaris GPM Kota Yogyakarta, serta Rezha, Wakil Ketua Bidang Media Massa dan Propaganda GPM Kota Yogyakarta. Dalam rapat tersebut turut didampingi Antonius Fokki Ardiyanto, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP GPM.

Naeyla mengatakan bahwa kehadiran GEN-M berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang komunikasi yang lebih dekat dengan karakter generasi Z. Menurutnya, Marhaenisme tidak boleh hanya menjadi pembahasan sejarah atau berhenti pada nama Bung Karno, tetapi harus mampu dipahami dan dibicarakan kembali oleh generasi muda sesuai dengan persoalan zaman.

“GEN-M kami gagas sebagai ruang anak Gen Z untuk mengenal Marhaenisme dengan bahasa dan cara mereka sendiri. Kami ingin membicarakan persoalan anak muda secara terbuka, mulai dari pendidikan, pekerjaan, ekonomi, lingkungan, teknologi, budaya, hingga kegelisahan mereka terhadap masa depan,” ujar Naeyla.

Ia menegaskan, GEN-M tidak dimaksudkan sebagai media yang hanya menyampaikan kegiatan organisasi. Lebih dari itu, GEN-M diharapkan menjadi ruang yang mampu menangkap suara generasi muda dan menghubungkannya dengan nilai-nilai perjuangan kerakyatan.

“Anak Gen Z punya banyak kegelisahan, tetapi tidak semuanya memiliki ruang untuk menyampaikan. GEN-M harus menjadi ruang untuk bersuara, berdiskusi, dan mencari jalan keluar bersama. Marhaenisme harus hadir di tengah kehidupan mereka, bukan hanya menjadi cerita masa lalu,” lanjutnya.

Sekretaris GPM Kota Yogyakarta, Fais Hakim, menambahkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah pola komunikasi generasi muda. Karena itu, gerakan kepemudaan juga harus mampu hadir di ruang digital tanpa kehilangan akar perjuangannya.

Sementara itu, Rezha selaku Wakil Ketua Bidang Media Massa dan Propaganda menegaskan bahwa GEN-M akan dikembangkan sebagai media yang komunikatif, kreatif, dan dekat dengan kehidupan Gen Z.

“GEN-M bukan sekadar membuat akun media sosial. Yang ingin kami bangun adalah ekosistem komunikasi anak muda. Kontennya harus dekat dengan realitas Gen Z, tetapi tetap memiliki keberpihakan pada kepentingan rakyat dan nilai-nilai Marhaenisme,” ungkap Rezha.

Dalam kesempatan tersebut, Antonius Fokki Ardiyanto menyampaikan bahwa langkah GPM Kota Yogyakarta menghadirkan GEN-M merupakan bagian dari upaya membawa Marhaenisme ke ruang kehidupan generasi baru.

Menurut Fokki, tantangan gerakan Marhaenis saat ini bukan hanya bagaimana mempertahankan ingatan sejarah, tetapi bagaimana membuat gagasan Marhaenisme dapat dipahami dan dirasakan relevansinya oleh generasi yang hidup dalam perubahan teknologi, ekonomi, sosial, dan budaya yang sangat cepat.

“Kalau Marhaenisme hanya dibicarakan di ruang-ruang organisasi, sementara anak muda hidup di ruang digital, maka kita harus hadir di sana. GEN-M harus menjadi jembatan antara gagasan Marhaenisme dengan realitas kehidupan Gen Z,” kata Fokki.

Ia menambahkan bahwa semangat Marhaenisme pada dasarnya berbicara tentang keberpihakan kepada manusia yang menghadapi ketidakadilan dan keterbatasan akses terhadap sumber daya kehidupan. Karena itu, menurutnya, kegelisahan Gen Z terhadap masa depan merupakan sesuatu yang penting untuk didengar.

“Bale Marhaen adalah rumah perjuangan kaum Marhaen. Dari rumah perjuangan ini, kita ingin melahirkan ruang digital yang mampu mendengar suara anak muda. GEN-M harus menjadi tempat bertemunya Marhaenisme dengan kegelisahan Gen Z,” tegas Fokki.

Rapat GPM Kota Yogyakarta tersebut kemudian menyepakati pembentukan dan pengembangan akun media sosial GEN-M sebagai media pengenalan Marhaenisme bagi generasi Z sekaligus ruang menyuarakan berbagai persoalan dan kegelisahan mereka.

GEN-M diharapkan menjadi media yang bersuara, bukan sekadar media yang berbicara; menjadi ruang tempat Gen Z dapat bertanya, mengkritik, berdiskusi, berkarya, dan menyampaikan realitas kehidupan mereka.

Dari Bale Marhaen, GPM Kota Yogyakarta ingin membawa semangat perjuangan kaum Marhaen ke ruang digital:

“Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai sejarah. Ia harus hidup, dibicarakan, dan diperjuangkan oleh generasi zamannya.”

ACN/RB/RED

Related Articles

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe

Latest Articles