ACTUALNEWS.ID JAKARTA – Jacob dari SOKSI turut menghadiri acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64 Bambang Soesatyo atau yang akrab disapa Bamsoet, sekaligus peluncuran buku ke-38 karya Bamsoet berjudul Politik Hukum Konstitusi dan buku karya wartawan senior Kompas, J. Osdar, berjudul Dari Senayan ke Ruang Kuliah, Parle Senayan Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Jacob menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Bambang Soesatyo. Ia berharap Bamsoet diberikan umur panjang, keberkahan, serta terus produktif memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
“Selamat ulang tahun untuk Bapak Bambang Soesatyo. Panjang umur, barokah. Semoga bisa menjadi pemimpin di Republik ini,” ujar Jacob.
Selain memberikan ucapan selamat, Jacob juga menyampaikan pandangannya mengenai kondisi bangsa Indonesia. Ia menyoroti persoalan mentalitas masyarakat maupun pemimpin yang dinilainya masih menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya membangun Indonesia.
Menurut Jacob, Indonesia membutuhkan pemimpin dengan mentalitas yang baik dan memiliki integritas dalam menjalankan amanah.
“Tidak memiliki pemimpin yang bermental yang baik untuk membangun negeri seperti Pak Hoegeng, eks Kapolri zaman Pak Karno. Pemimpin kita cenderung serakah dan korup. Mengumpulkan kekayaan untuk anak cucunya,” ucapnya.
Ia menilai keserakahan menjadi salah satu persoalan serius yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, selain memperbaiki mentalitas, pemerintah juga perlu memperkuat efisiensi anggaran dan mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri.
“Dan perlu dicatat, keserakahan adalah penyakit buta mata bangsa Indonesia. Ini menurut saya poin penting untuk membangun bangsa ini. Di samping kita harus kencangkan ikat pinggang, efisiensi penggunaan anggaran, buat stop utang luar negeri. Ini intinya,” tegasnya.
Jacob juga menilai masih terdapat berbagai persoalan yang harus dibenahi, khususnya dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Ia melihat Indonesia masih menghadapi sejumlah ketertinggalan dibandingkan negara-negara lain sehingga diperlukan langkah nyata dan konsisten untuk memperbaikinya.
Menurutnya, momentum HUT Bamsoet seharusnya tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga dapat dijadikan momentum refleksi untuk melihat kembali berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.
Jacob berharap seluruh elemen bangsa tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah belah di tengah berbagai tantangan yang ada. Ia juga mengingatkan agar pembangunan nasional tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan nyata.
“Kami ingin berusaha untuk tidak terpecah belah. Tetapi kalau melihat mentalitas bangsa, para pemimpin dari dulu hingga hari ini hanya slogan saja. Kalau Presiden Prabowo ingin membawa Indonesia maju, jangan sampai itu hanya menjadi lelucon,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jacob menekankan bahwa penegakan hukum dan upaya perampasan aset hasil korupsi harus menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.
“Pilar utama adalah penegakan hukum dan perampasan aset para koruptor menjadi poin utama buat Presiden Prabowo kalau masih mau dipercaya rakyat untuk terus melanjutkan memimpin sampai tahun 2029. Ini yang poin utama dalam pemberantasan korupsi,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tanpa penegakan hukum yang tegas, Indonesia berpotensi mengalami stagnasi bahkan kemunduran. Menurutnya, penegakan hukum bukan hanya persoalan aturan, tetapi juga memiliki dimensi moral dalam upaya memperbaiki kondisi bangsa.
“Negeri ini akan stagnan kalau penegakan hukum cuma omon-omon, malah bisa kita makin mundur dan slogan Indonesia Emas hanyalah ilusi di pagi hari. Karena dalam konteks penegakan hukum ada pesan moral untuk memperbaiki bangsa ini. Menurut saya, sudah di titik nadir paling rendah saat ini,” tegasnya.ACN/RED
