ACTUALNEWS.ID, Jakarta – Komisi X DPR RI menyoroti tajam masih lebarnya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja di Indonesia. Kondisi ini memicu tingginya angka pengangguran terdidik meski anggaran pendidikan di APBN telah dialokasikan penuh sebesar 20 persen.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., menyampaikan keprihatinannya terkait persoalan struktural tersebut. Ia menilai penguatan ekonomi nasional wajib bermula dari pembenahan sektor pendidikan secara mendasar.
“Enggak ada bangsa yang bisa menghasilkan ekonomi yang kuat kalau pendidikannya enggak kuat. Pasti semua berawal dari pendidikan yang kuat,” ujar Kurniasih.
Keterbatasan Talenta STEM dan Tantangan Daya Saing Global
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat ada 7,28 juta pengangguran di Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 1 juta orang merupakan lulusan perguruan tinggi yang belum terserap pasar kerja.
Lebih lanjut, Kurniasih menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama gap tersebut adalah minimnya porsi lulusan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Menurut data Kemristekdikti 2020, proporsi lulusan STEM baru mencapai 20 persen dari total lulusan pendidikan tinggi.
Kondisi ini berdampak langsung pada daya saing inovasi nasional. Berdasarkan laporan Global Innovation Index (GII) 2024 dari WIPO, Indonesia mengantongi skor 30,3 dan tertahan di peringkat 54 dunia. Sementara itu, capaian PISA Indonesia pada 2018 juga masih berada di bawah standar internasional.
Dorong Link and Match Melalui Asta Cita Ke-4
Menghadapi ketidakpastian global dan disrupsi teknologi, DPR terus mendesak pemerintah mempercepat integrasi kurikulum. Langkah ini diselaraskan dengan program prioritas nasional Asta Cita ke-4 tentang pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Kami terus melakukan dorongan agar program prioritas nasional melalui Asta Cita ke-4 bisa link and match antara pendidikan dan dunia industri,” kata Kurniasih.
Komisi X DPR RI mendorong perbaikan alokasi anggaran bersama kementerian terkait, mulai dari Kemendikdasmen, Kemendikti Saintek, hingga BRIN. Optimalisasi ketepatan alokasi dana diharapkan mampu mendongkrak kualitas lulusan SMA, SMK vokasi, serta perguruan tinggi agar siap masuk pasar industri.
ACN/Calista/RED
