ACTUALNEWS.ID, JAKARTA — Asia Research Center (ASC) FISIP Universitas Indonesia (UI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing” di FISIP UI, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Seminar tersebut menjadi forum akademis untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong penguatan kebijakan nasional dalam menghadapi ancaman spionase dan intervensi asing yang semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi, khususnya teknologi siber.
Direktur Eksekutif ASC FISIP UI, Edy Prasetyono, mengatakan isu spionase dan intelijen asing sudah menjadi persoalan yang semakin penting untuk dibahas secara terbuka dan akademis.
Menurutnya, perlindungan terhadap rahasia negara menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kedaulatan nasional. ASC FISIP UI bahkan sebelumnya pernah mendorong pembahasan mengenai rancangan undang-undang terkait rahasia negara pada periode 2010-2011.
“Kami pernah mengajukan satu rancangan undang-undang, perdebatan secara akademis mengenai rahasia negara. Dan karena itu, kami membuka kembali meskipun dengan nama yang berbeda, yaitu mengenai penanggulangan spionase dan interferensi asing,” ujar Edy.
Ia menilai praktik saling memperoleh informasi antarnegara merupakan bagian dari dinamika hubungan internasional. Aktivitas tersebut tidak hanya terjadi antara negara-negara yang memiliki hubungan rivalitas, tetapi juga dapat berlangsung di antara negara-negara yang secara politik merupakan mitra atau sahabat.
“Tidak bisa lagi dipungkiri, ini riil, muncul setiap hari, ditambah dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Bentuknya macam-macam,” tegasnya.
Edy menambahkan, penguasaan informasi strategis menjadi kebutuhan penting bagi negara. Dengan kemampuan memperoleh dan mengelola informasi secara tepat, pemerintah dapat meningkatkan kapasitas mitigasi serta mengantisipasi berbagai kemungkinan strategi maupun kebijakan yang berasal dari pihak asing.
Kajian Akan Dilanjutkan
ASC FISIP UI memastikan seminar nasional tersebut bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri. Forum ini menjadi bagian dari rangkaian kajian yang akan terus dikembangkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih komprehensif.
Edy mengatakan ASC FISIP UI akan menggelar seminar lanjutan serta diskusi secara berkala dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait ketahanan nasional.
“Ini bukan seminar yang pertama. Kita masih akan melakukan kajian lebih lanjut untuk mematangkan semuanya, dan nanti akan ada seminar kedua dan juga diskusi-diskusi yang akan kami lakukan secara berkala,” katanya.
Dalam seminar tersebut, ASC FISIP UI turut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan ahli, termasuk perwakilan Masyarakat Siber Indonesia dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah badan usaha milik negara, yakni PT Timah, PT Aneka Tambang (Antam), dan PT PP. Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Republik Indonesia turut memberikan apresiasi moril dan hadir membuka kegiatan.
Melalui rangkaian seminar dan kajian lanjutan tersebut, ASC FISIP UI berharap dapat berkontribusi dalam merumuskan kebijakan nasional yang mampu memperkuat perlindungan informasi strategis, meningkatkan ketahanan siber, serta menjaga kedaulatan Indonesia dari berbagai bentuk spionase dan intervensi asing
ACN/RED
